Surabaya - Fraksi PDIP DPRD Jawa Timur mencatat 6.417 hektare tanaman padi di Jatim sudah diserang hama wereng, karena itu fraksinya mendesak pemerintah provinsi (pemprov) segera bertindak konkret.
"Segera lakukan tindakan konkret. Jangan hanya menegur dengan mengirim surat peringatan (SP) ke bupati," kata juru bicara Fraksi PDIP DPRD Jatim, Bambang Harianto, di Surabaya, Kamis.
Dalam rapat paripurna DPRD dengan agenda Pandangan Umum Fraksi PDIP terhadap Pertanggungjawaban Gubernur Jawa Timur atas Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2010, ia membeberkan data yang diperoleh fraksinya dari dinas pertanian.
Sejak Januari hingga 15 Mei 2011, tercatat 6.417 hektare tanaman padi di sawah yang diserang wereng. Dari jumlah itu, 4.052 hektare rusak ringan, 1.528 hektare rusak sedang, 601 hektare rusak berat, dan 235 hektare puso.
"Petani menderita kerugian akibat gagal panen itu, bahkan petani Lamongan mengalami kerugian terbesar dengan 1.108 hektare lahannya terserang wereng," katanya.
Setelah itu, Bojonegoro sejumlah 940 hektare, Ponorogo 865 hektare, Tuban 731 hektare, dan Nganjuk seluas 536 hektare.
"Jika dikalikan dengan rata-rata luas penguasaan lahan per petani 0,3 hektare dan rata-rata jumlah penduduk per keluarga di Jatim 3,57 orang, maka terlihat nyata ada 76.000 lebih warga Jatim yang menderita kerugian akibat hama wereng itu," katanya.
Menurut dia, jumlah itu tidak sedikit, karena sudah setara dengan separuh jumlah penduduk Kota Blitar.
"Data itu belum mencakup serangan hama wereng dalam dua bulan terakhir. Pada 30 Juni lalu, Wagub mencatat sudah 9.000 hektare sawah yang terserang hama wereng. Artinya, warga Jawa Timur yang menderita akibat hama ini sudah mencapai angka 107.000 jiwa," katanya.
Terkait adanya petani yang sudah terlanjur mengalami gagal panen, ia mengatakan perlu adanya usaha khusus dari pemprov untuk merealisasikan Inpres Nomer 5 Tahun 2011 terkait ganti rugi Rp2,6 juta bagi yang gagal panen di atas 75 persen.
"Jangan lagi, petani dibiarkan menderita sehingga kesejahteraan petani makin merosot seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir. Jangan lagi, nilai tukar petani tahun ini berada di bawah angka 100," ujarnya.
Editor : M. Irfan Ilmie
COPYRIGHT © ANTARA 2026