Festival Film Banyuwangi angkat kehidupan dan tradisi lokal

id festival film banyuwangi,banyuwangi festival 2019,bupati anas

Festival Film Banyuwangi angkat kehidupan dan tradisi lokal

Festival Film Banyuwangi. (istimewa)

Banyuwangi (ANTARA) - Festival film yang baru digelar pertama kali di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dari sebanyak 30 karya seniman film muda yang turut meramaikan festival film pendek ini sebagian besar mengangkat tema kehidupan dan tradisi lokal.

Festival film pendek yang sebagian besar mengangkat tema tradisi lokal ini pun diapresiasi oleh pembuat film (sineas) Mira Lesmana, karena Banyuwangi telah menempatkan film sebagai sesuatu yang penting dan difestivalkan dan menjadi sebuah langkah yang luar biasa.

"Semua kota di dunia yang boleh dibilang ada di garda depan dan maju, pasti memiliki festival film. Dan saat ini Banyuwangi sudah ada di peta tersebut dengan mengangkat film sebagai bagian dari kultur dan sesuatu yang harus diperkenalkan oleh Banyuwangi," kata Mira, saat menghadiri Festival Film dan Video Kreatif Desa di Banyuwangi, Selasa.

Sebanyak 30 karya seniman film muda turut meramaikan festival film pendek ini, dengan mengangkat tema besar Majestic Banyuwangi. Karya yang dikirim para peserta tersebut banyak mengangkat tentang kehidupan dan tradisi lokal warga Banyuwangi.

Menurut Mira, para pembuat film muda hendaknya mengangkat ide cerita dari lokal, yang ada di lingkungan sekitarnya. Karena dengan ini akan menghasilkan keunikan dan karya yang berbeda dengan sineas lainnya.

"Tentang mengangkat kultur lokal tidak masalah, justru cerita bagus itu yang unik dan semakin lokal. Bahkan film yang mendunia dan bisa dihargai di banyak tempat, datangnya dari Meksiko, Prancis. Film tidak melulu hanya untuk sisi komersial tetapi punya perannya di tempat-tempat yang lain dan tetap bisa sukses," ujar istri aktor Mathias Muchus itu.

Salah satu peserta yang mendapat penilaian dari Mira yakni film Jaler (lelaki), karya Lutfi Masduki yang tergabung dalam tim Qmen Crew. Film yang memenangkan festival ini mengisahkan tentang keresahan Ghani, seorang remaja pria yang tumbuh menjadi pribadi feminin setelah ibunya meninggal.

Konflik muncul ketika paman Ghani, melihat dia sering belajar menjadi pemain Gandrung, dan ternyata sisi femininnya muncul karena roh ibundanya yang merasuki dirinya. Semasa hidupnya, ibunda Ghani adalah penari Gandrung.

"Temanya sangat menarik, paling unik dan kuat. Ini kan sesuatu yang jarang dibicarakan. Emosinya di film itu juga dapet," kata Mira.

Pembuat film Lutfi Masduki mengemukakan, ide pembuatan film ini berawal dari kisah penari pria Gandrung Marsan. Lutfi mengaku resah banyak masyarakat yang menganggap tabu seorang pria menjadi Gandrung.

"Saya ingin membuka mata masyarakat bahwa dulu Gandrung itu awalnya ditarikan oleh seorang pria, bukan perempuan. Dan Marsan adalah penari Gandrung pria terakhir, yang kemudian kini Gandrung dimainkan oleh penari perempuan," kata Lutfi.

Lutfi Masduki membuat film pendek itu dengan tim yang berjumlah 15 orang, membuat film ini hanya mengeluarkan Rp250.000 untuk membuat Jaler.

"Semua tidak ada yang dibayar, hanya bermodalkan semangat, yang penting setor karya kami di festival ini. Kami hanya ingin menjukkkan bahwa anak daerah juga bisa membuat film," ucapnya.

Menurut Lutfi, festival ini akan memacu pembuat film pemula kota untuk terus berkarya, karena tidak semua daerah menggelar festival film.

"Banyak teman dari daerah lain iri Banyuwangi mulai menggelar festival film. Festival ini benar-benar jalan bagi kami untuk menampilkan karya kami dan dikuratori dengan baik sehingga memacu kami untuk terus berkarya," kata Lutfi.

Selain festival film, bersamaan dengan acara itu digelar lomba video kreatif desa, di mana setiap desa membuat video promosi tentang desanya.

"Secara tidak langsung, ini mengedukasi desa untuk melakukan pemasaran desanya. Mereka secara tak langsung kami paksa untuk berfikir kreatif untuk mempromosikan potensinya yang menonjol dalam sebuah video kreatif tentang desanya," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Secara khusus mengenai festival film, Bupati Anas mengapresiasi karya-karya yang telah masuk dan bahkan ada karya film anak SMKN Tegalsari, Banyuwangi yang bercerita tentang kegigihan seorang pelajar untuk menyelesaikan pendidikan SMA di tengah kendala yang ada.

"Festival film ini tidak hanya sekedar untuk promosi pariwisata, namun ini juga jalan bagaimana sineas-sineas muda bisa tumbuh dan menghasilkan karya film yang mumpuni," katanya.
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar