Tradisi tadarus membaca Alquran raksasa

id Al Quran Raksasa,Banyuwangi,Tadarus

Tradisi tadarus membaca Alquran raksasa

Umat muslim bertadarus menggunakan Alquran berukuran raksasa di Masjid Baiturrahman, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (7/5/2019). Alquran raksasa yang ditulis tangan oleh Abdul Karim memiliki ukuran halaman 142 x 210 centimeter, mulai ditulis pada 1 Februari 2010 dan selesai pada 26 Agustus 2010 untuk dibaca setiap bulan Ramadhan di Masjid Baiturrahman Banyuwangi. (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/aww)

Banyuwangi (ANTARA) - Ada yang berbeda dengan tadarus Alquran di Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi. Setiap bulan Ramadhan tiba, umat muslim di sekitar masjid mempunyai tradisi bertadarus membaca Alquran yang berukuran besar, yakni setinggi 210 cm dan lebar 140 cm.

Alquran tersebut dibuat oleh Ustadz Drs. H. Abdul Karim, dari YAPIP (Yayasan Pendidikan Islam Pesantren) Bustanul Ma'mur Genteng, dengan tulis tangan yang dimulai pengerjaanya mulai 1 Januari 2010 hingga akhir Ramadhan 1431 Hijriah/ September 2010 Masehi lalu.

Sedangkan bahannya memakai kertas khusus yang didatangkan dari Jepang. Begitu pula untuk menjaga kesucian Alquran ini telah dibuatkan kotak khusus yang terbuat dari kayu jati.

Alquran ini mengolaborasikan mushaf Alquran gaya Timur Tengah dengan gaya Indonesia, yang dilengkapi pula dengan tanda "kharokat". Hal itu dimaksudkan untuk memudahkan membaca bagi seluruh kaum muslim di Indonesia.

Oleh beberapa ulama di Banyuwangi, mushaf Alquran karya Abdul Karim itu disebut Quran pojok, karena setiap akhir surat atau ayat persis berada di pojok pada halaman Alquran. Kitab suci raksasa tersebut diwakafkan kepada Masjid Agung Baiturrahman, masjid agung tertua yang menjadi pusat kegiatan agama Islam di Banyuwangi.
 

Video Oleh Budi Candra Setya
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar