Tradisi Resik Kagungan

id Tradisi Resik Kagungan,Banyuwangi,Budaya Blambangan,Buyut Cungking

Tradisi Resik Kagungan

Warga suku Osing mengangkat pusaka peninggalan buyut Cungking yang dibungkus kain saat menggelar tradisi resik kagungan di Balai Tajug, Cungking, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (21/3/2019). Tradisi ritual pembersihan benda peninggalan buyut Cungking seperti Pusaka yang digelar pada pertengahan bulan Rajab tersebut, selain menjadi ajang silaturahmi juga meminta barokah. (Antara Jatim/Budi Candra Setya)

Banyuwangi (ANTARA) - Tradisi resik kagungan merupakan ritual membersihkan pusaka peninggalan Buyut Cungking, yang digelar di Balai Tajuk Jalan Gandrung 47 lingkungan Cungking Kelurahan Mojopanggung Kecamatan Giri, Banyuwangi.

Konon, Buyut Cungking adalah sosok orang sakti dan penasihat Prabu Tawangalun pada masa kerajaan Blambangan sebagai cikal bakal Kabupaten Banyuwangi.

Tradisi seperti ini sudah berlansung turun temurun, warga beramai-ramai membersihkan pusaka tombak dan kain kafan pembungkus pusaka Buyut Cungking.

Pada ritual ini, hanya kaum pria yang boleh melakukan ritual membersihkan pusaka, sedangkan para ibu-ibu yang sudah manepose yaitu suci dari haid hanya ditugaskan untuk mencuci kain pembungkus pusaka dan memasak.

Usai menggelar bersih pusaka, warga melaksanakan sabut (mengusap muka dengan kain) dan dilanjutkan dengan pembagian air bekas penyucian pusaka yang dipercaya dapat mendatangkan barokah dan kesehatan.

Menurut kepercayaan, apabila pada pusaka tersebut banyak kerak atau kotoran, maka akan terjadi huru-hara di negeri ini. Ritual ini sangat dipercaya oleh masyarakat cungking dan desa sekitarnya.

Melihat besarnya jasa itu, maka setiap pertegahan bulan Rajab selalu dilaksanakan Ritual Upacara Resik Kagungan.
 
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar