Musim Hujan, Musim Demam Berdarah

id demam berdarah,penghujan kasus demam berdarah tinggi,fogging,psn pemberantasan sarang nyamuk

Musim Hujan, Musim Demam Berdarah

Penulis: Asmaul Chusna (dok pribadi)

Di berbagai wilayah Indonesia, tren warga yang terkena penyakit demam berdarah saat musim hujan relatif lebih tinggi ketimbang bulan-bulan sebelumnya.
Kediri (Antaranews Jatim) - Musim hujan bagi petani tentunya membawa berkah, bersiap untuk bercocok tanam. Namun, musim hujan justru bisa menjadi kecemasan tersendiri dengan merebaknya populasi nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk ini patut diwaspadai karena membawa virus demam berdarah.

Di berbagai wilayah Indonesia, tren warga yang terkena penyakit demam berdarah saat musim hujan relatif lebih tinggi ketimbang bulan-bulan sebelumnya. Nyamuk jenis ini suka berkembang biak di air menggenang yang bersih. Fenomena ini banyak terjadi ketika musim hujan. Periode musim hujan di Indonesia biasa dimulai pada bulan Oktober hingga Maret. 

Di Jawa Timur, selama Januari 2019, jumlah penderita DBD mencapai 2.660 orang. Dari jumlah yang terdata itu, 46 penderita di antaranya meninggal dunia.

Sementara itu, Kabupaten Kediri, selama Januari 2019 saja sudah 271 warga yang terjangkit virus penyakit ini, dengan 12 orang di antaranya meninggal dunia. Usia warga terjangkit juga beragam, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Kabupaten Kediri menempati peringkat pertama kasus DBD di Jatim. 

Kabupaten Kediri tercatat sebagai daerah dengan kasus terbanyak pada Januari 2019. Daerah lainnya adalah Kabupaten Tulungagung terdapat 249 penderita dengan tiga orang meninggal dunia. Urutan ketiga adalah Bojonegoro sebanyak 177 kasus dengan empat orang di antaranya meninggal dunia.  

Penyakit DBD (demam berdarah dengue) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan melalui perantara nyamuk Aedes Aegypti dan manusia. Penyakit ini dikategorikan berbahaya karena dapat mengakibatkan kematian.

Tingginya tren ini tentunya menarik jadi pembahasan. Kenapa tinggi? kenapa terulang? apa masalahnya? Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri menjawab hal itu karena multifaktor, salah satunya tingkat partisipasi masyarakat yang masih belum optimal.

Intensitas dan curah hujan yang tinggi dapat meningkatkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD. Memang tidak selalu dapat menghindari datangnya penyakit, namun masyarakat dapat mencegahnya.

Selama ini yang selalu didengungkan adalah program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M (menguras, menutup dan mengubur) di rumah, lingkungan sekolah, maupun kantor. Namun, saat menguras bak atau wadah air, seharusnya diikuti dengan menggosok dinding bak atau tempat penampungan air tersebut, sebab telur nyamuk erat menempel di dinding bak penampungan air. 

3M tentunya bisa mencegah nyamuk berkembang. Namun, ada juga cara lain yakni dengan menggunakan kelambu untuk menutup tempat tidur. Ini nyatanya bisa menghalangi nyamuk jenis apapun untuk mendekat saat manusia tidur. Pun bisa memanfatkan obat nyamuk.

Tindakan lainnya dengan memanfaatkan predator biologis untuk jentik nyamuk yakni ikan. Hewan ini bisa dipelihara di kolam yang bisa memakan berbagai jentik nyamuk. 

Saat terdapat warga yang terkena demam berdarah, pemerintah melakukan upaya fogging atau pengasapan. Namun, cara itu dinilai kurang efektif, karena hanya membunuh nyamuk dewasa. Jentik nyamuk tetap bisa berkembang. 

Kini, yang harus diperhatikan adalah tantangan bahwa vektor nyamuk Aedes Aegepty tersebut dapat hidup di mana pun di Indonesia. Untuk itu, bukan hanya saat musim hujan semua bergerak gotong royong membersihkan lingkungan, melainkan setiap saat. (*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar