Ketakutan Najwa Shihab Saat Menjadi Jurnalis

id Najwa shihab, najwa, najwa takut jadi jurnalis

Ketakutan Najwa Shihab Saat Menjadi Jurnalis

Pembawa Acara Najwa Shihab (kiri) berbincang bersama Kepala Biro Umum Setjen Kemhan Marsma TNI Yusuf Jauhari (tengah) dan Direktur Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) Oscar Motuloh (kanan) saat peluncuran buku "Lombok-Palu-Dongala Rev!val" di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru, Jakarta, Jumat (2/11/2018). (ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.)

Jakarta (Antaranews jatim) - Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, Najwa Shihab mengaku menjadi lebih bijaksana dan berhati-hati dalam mengolah informasi terkait dengan berita yang ia sebarkan.
    
Najwa kerap melakukan investigasi terhadap narasumber yang dianggap "berbahaya". Sebagai jurnalis dan juga news anchor, ia seperti tidak takut dengan ancaman yang terjadi.
    
Najwa mengatakan bahwa dirinya memiliki rasa takut ketika akan mengeluarkan sebuah berita yang ternyata memiliki informasi yang salah.
    
"Takut sih tapi menurut saya itu sehat. Karena rasa itu mengimbangi adrenalin. Sekarang akal sehat kita yang membuat kita untuk mengontrol. Dulu di awal-awal sering bablas sekarang lebih bijak karena ingat anak," kata Najwa saat berbincang dalam acara "Indonesian Womens Forum 2018" di Jakarta, Jumat.
    
"Yang jadi ketakutan bahwa mungkin informasi yang saya sampaikan ada salahnya atau tidak akuratnya. Karena sekali lagi, sekarang dunia kecepatan berita itu seolah-olah membuat jurnalis terburu-buru bekerjanya, gitu jadi lebih takut ngawur. Kalau takut nanya atau takut meliput itu tidak ada dalam kamus," lanjutnya.
    
Menurut Najwa, semua orang kini bisa menjadi jurnalis. Oleh karena itu, profesi wartawan menjadi sangat penting untuk meluruskan informasi yang benar.
    
"Semua orang bisa melakukan yang disampaikan oleh wartawan. Di situ fungsi wartawan dibutuhkan. Jadi penting karena orang selalu akan butuh fakta yang dipertanggungjawabkan, informasi yang benar karena itu dibutuhkan untuk mengambil sikap,"  kata Najwa.(*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar