Peternak Ayam di Blitar Keluhkan Ketersediaan Pakan Jagung

id kabupaten blitar ,peternak ayam blitar ,keluhkan pasokan jagung ,stok jagung , Ketua Koperasi Peternak Blitar Raya Sukarman

Peternak Ayam di Blitar Keluhkan Ketersediaan Pakan Jagung

Peternak di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, aksi damai di halaman Pemerintah Kabupaten Blitar, Senin (15/1). Peternak mengeluhkan pasokan jagung untuk pakan ternak. (Antara Jatim/Asmaul Chusna)

Jika terus seperti ini, otomatis merugikan peternakan ayam dan ternak menjadi kurang produktif lagi.
Blitar (Antaranews Jatim) - Para peternak ayam di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, mengeluhkan ketersediaan jagung sebagai salah satu satu bahan untuk pakan ternak, karena saat ini terjadi kelangkaan sehingga harganya menjadi lebih mahal.

"Kami peternak seluruh Blitar raya menuntut keberadaan pakan jagung. Pemerintah harus menyediakan jagung cukup dengan harga wajar," kata Ketua Koperasi Peternak Blitar Raya Sukarman di Kabupaten Blitar, Senin.

Para peternak ayam di Kabupaten Blitar mengadakan aksi damai menuntut keberadaan pasokan jagung untuk kebutuhan pakan ternak ayam mereka. Aksi itu dilakukan di halaman kantor Pemerintah Kabupaten Blitar.

Ia mengaku sempat mendengar dan membaca kabar di media bahwa jagung dari Indonesia diekspor. Padahal, di Kabupaten Blitar para peternak justru sangat membutuhkan untuk kebutuhan pakan ternak. Akibat pasokan yang relatif minim, kini harga jagung juga mahal.

Harga jagung di tingkat konsumen naik drastis menjadi Rp5.200 sampai Rp5.300 per kilogram, padahal biasanya di bawah harga tersebut. Hal itu memberatkan, mengingat kebutuhan pakan jagung juga relatif sangat tinggi hingga sekitar 1.500 ton per hari.

Ia bersama para peternak ayam lainnya kini berburu jagung hingga ke luar daerah, namun pasokan yang ada juga sangat terbatas. Pasokan yang ada hanya untuk sekitar dua pekan, padahal jagung sangat dibutuhkan.

Ia juga mengatakan, para peternak ayam terkadang juga menyiasati kelangkaan jagung menggantinya dengan nasi aking, yakni nasi yang sudah dikeringkan, sebagai salah satu bahan baku untuk pakan ternak. Namun, pakan itu tidak bisa menggantikan kandungan gizi di jagung, sehingga juga bisa memengaruhi produksi telur ayam.

"Kalau stok jagung kosong, menggunakan bahan baku lain, misalnya nasi aking. Tapi, ini menjadikan produksi jelek, telur juga kurang baik," katanya.

Sukarman mengatakan, saat ini produksi telur ayam di Kabupaten Blitar masih belum terdampak dengan serius akibat kelangkaan jagung tersebut. Namun, jika dibiarkan akibatnya akan menurunkan produksi telur ayam para peternak.

Ia juga menambahkan, sejumlah peternak dari daerah lain juga mengalami hal yang sama, namun jika pasokan tidak ada peternak juga tidak akan segan untuk datang langsung ke pemerintah pusat, meminta kebijakan ketersediaan pakan untuk para peternak.

"Jika terus seperti ini, otomatis merugikan peternakan ayam dan ternak menjadi kurang produktif lagi. Kami berharap,1-2 pekan ini pakan jagung harus ada di Blitar, dengan harga wajar sesuai dengan aturan kementerian perdagangan," kata dia.

Aksi itu berjalan dengan tertib dan lancar. Para pengunjukrasa menyampaikan aspirasinya di halaman Pemkab Blitar. Mereka juga membawa berbagai macam poster yang isinya tuntutan aksi. Walaupun mendapatkan kawalan ketat dari aparat, aksi tetap berjalan dengan tertib dan lancar.

Kabupaten Blitar merupakan salah satu daerah penghasil telur terbesar di Jatim, dengan jumlah ayam petelur 15.170.000 ekor dan produksi mencapai 151.931 ton telur. Dengan angka tersebut, Blitar mampu menyuplai 70 persen kebutuhan telur Jawa Timur dan 30 % permintaan nasional.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Blitar juga sudah membuat nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) di Balairung, Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, pada Juli 2019, yang ditindaklanjuti berupa perjanjian kerja sama oleh badan usaha milik daerah (BUMD) PT Food Station Tjipinang dan Koperasi Putera Blitar secara "business to business" (B to B). Pemkab Blitar menyiapkan 200.000 ton telur ayam untuk dikirim ke DKI Jakarta. (*)
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar