"Lumayanlah, sekarang sudah mulai ada ikan, karena dua tahun lebih musim paceklik karena cuaca buruk. Untuk saat ini dalam sekali melaut biasanya dapat ikan antara dua hingga empat ton," katanya.Trenggalek (Antara Jatim) - Sejumlah nelayan yang beroperasi di sekitar Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur menikmati panen ikan cakalang serte beberapa jenis ikan lain hasil tangkapan mereka dua pekan terakhir.
"Cuaca cerah membuat tangkapan ikan nelayan sini lumayan banyak. Alhamdulillah," kata Asmuni, nelayan pantai Prigi, Trenggalek, Sabtu.
Ia berharap cuaca terus bersahabat sehingga ikan tidak bersembunyi di perairan dalam.
Selain berpengaruh terhadap keberadaan ikan di permukaan, cuaca juga mempengaruhi tinggi gelombang air laut.
"Kalau gelombangnya tidak tinggi, normal, tentunya akan mempermudah nelayan untuk melakukan aktivitas melaut," ujarnya.
Menurut dia, pada awal bulan November ini, hasil tangkapan para nelayan rata-rata adalah ikan cakalang serta layang.
Asmuni dan nelayan lain bernama Prayit mengatakan, ikan jenis cakalang dan layang-layang banyak didapat dari kawasan rumpon yang berada sekitar 30 hingga 50 mil dari bibir pantai.
"Lumayanlah, sekarang sudah mulai ada ikan, karena dua tahun lebih musim paceklik karena cuaca buruk. Untuk saat ini dalam sekali melaut biasanya dapat ikan antara dua hingga empat ton," katanya.
Hal senada disampaikan nelayan lain, Arif. Menurutnya, dengan hasil tangkapan yang mulai stabil membuat para nelayan semangat untuk melakukan aktivitas melaut untuk memulihkan perekomonian yang nyaris terpuruk selama musim paceklik ikan.
"Saat ini cakalang yang ramai, habis ini biasanya jenis ikan layur, kemudian untuk ikan tuna biasanya pada bulan Maret. Kalau untuk ikan tongkol dan sejenisnya di pertengahan tahun," ujarnya.
Selain kondisi tangkapan yang mulai normal, harga komoditas ikan laut di Pelabupan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi juga relatif stabil. Harga satu kilogram ikan rata-rata dijual antara Rp15 ribu hingga Rp25 ribu.
"Tergantung dari jenis ikan dan kualitasnya, untuk jenis ikan-ikan besar seperti cakalang ini biasanya langsung dikirim ke luar kota. Ini nanti mau saya bawa ke Surabaya," imbuhnya.
Dikatakan kondisi harga yang stabil cukup menguntungkan para nelayan, karena biasanya apabila sedang musim puncak panen ikan, harga komoditas laut tersebut anjlok.
Sebelumnya, para nelayan di kawasan selatan Trenggalek ini nyaris menganggur selama lebih dari dua tahun, karena cuaca buruk.
Kondisi tersebut berdampak pada minimnya hasil tangkapan nelayan. Bahkan beberapa nelayan terpaksa beralih pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan lain.
Dari catatan Dinas Perikanan Trenggalek produksi ikan selama beberapa tahun terakhir memiliki tren penurunan yang cukup tajam.
Pada tahun 2014 produksi ikan nelayan masih mencapai 25 ribu ton, tahun 2015 turun menjadi 8 ribu ton, sedangkan tahun 2016 anjlok menjadi 4,6 ribu ton. (*)
"Lumayanlah, sekarang sudah mulai ada ikan, karena dua tahun lebih musim paceklik karena cuaca buruk. Untuk saat ini dalam sekali melaut biasanya dapat ikan antara dua hingga empat ton," katanya.
Hal senada disampaikan nelayan lain, Arif. Menurutnya, dengan hasil tangkapan yang mulai stabil membuat para nelayan semangat untuk melakukan aktivitas melaut untuk memulihkan perekomonian yang nyaris terpuruk selama musim paceklik ikan.
"Saat ini cakalang yang ramai, habis ini biasanya jenis ikan layur, kemudian untuk ikan tuna biasanya pada bulan Maret. Kalau untuk ikan tongkol dan sejenisnya di pertengahan tahun," ujarnya.
Selain kondisi tangkapan yang mulai normal, harga komoditas ikan laut di Pelabupan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi juga relatif stabil. Harga satu kilogram ikan rata-rata dijual antara Rp15 ribu hingga Rp25 ribu.
"Tergantung dari jenis ikan dan kualitasnya, untuk jenis ikan-ikan besar seperti cakalang ini biasanya langsung dikirim ke luar kota. Ini nanti mau saya bawa ke Surabaya," imbuhnya.
Dikatakan kondisi harga yang stabil cukup menguntungkan para nelayan, karena biasanya apabila sedang musim puncak panen ikan, harga komoditas laut tersebut anjlok.
Sebelumnya, para nelayan di kawasan selatan Trenggalek ini nyaris menganggur selama lebih dari dua tahun, karena cuaca buruk.
Kondisi tersebut berdampak pada minimnya hasil tangkapan nelayan. Bahkan beberapa nelayan terpaksa beralih pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan lain.
Dari catatan Dinas Perikanan Trenggalek produksi ikan selama beberapa tahun terakhir memiliki tren penurunan yang cukup tajam.
Pada tahun 2014 produksi ikan nelayan masih mencapai 25 ribu ton, tahun 2015 turun menjadi 8 ribu ton, sedangkan tahun 2016 anjlok menjadi 4,6 ribu ton. (*)
Pewarta: Destyan H. SujarwokoEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026