Situbondo (Antara Jatim) - Bupati Situbondo, Jawa Timur, mengemukakan bahwa penutupan tiga pabrik gula yang rencananya ditutup pada 2017 perlu dipertimbangkan dan dikaji ulang kembali karena penutupan PG tersebut dapat berdampak luas.
"Jika memang benar-benar akan ditutup, Pemerintah Kabupaten Situbondo akan melaporkan dan berkirim surat kepada Gubernur Jawa Timur, Soekarwo. Agar rencana penutupan tiga pabrik gula itu dipertimbangkan lagi," ujar Bupati Situbondo Dadang Wigiarto di Situbondo, Senin.
Menurut dia, dirinya belum membaca keputusan bersama antara Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi pada Kementerian Badan Usaha Negara (BUMN) RI, dan PTPN XI untuk menutup tiga pabrik gula yang ada di Kota Santri itu. Penutupan tiga pabrik gula tersebut, katanya, akan berdampak luas terhadap petani tebu di Situbondo, terlebih terhadap ribuan karyawan pada ketiga pabrik gula yang selama ini masih berproduksi tebu.
"Pemerintah Kabupaten Situbondo sebenaarnya memiliki banyak kepentingan dengan pabrik gula yang ada. Kalaupun ada masalah dengan manajemen pabrik, pemerintah daerah setempat akan mendorong BUMN dan PTPN lebih bijaksana menyikapinya," ucapnya.
Kebutuhan gula nasional, lanjut dia, saat ini belum sepenuhnya terpenuhi hasil produksi dalam negeri atau hasil produksi gula belum separuhnya memenuhui target 4 juta ton pertahun kebutuhan gula nasional.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) PG Olean, Situbondo, H. Taufik juga menyatakan menolak rencana penutupan tiga pabrik gula (PG) karena dipastikan akan membuat petani tebu kebingungan.
Tiga pabrik gulan yang akan ditutup tahun depan itu, yakni PG Olean di Kecamatan Kota Situbondo, PG Wringinanom Kecamatan Panarukan dan PG Panji di Kecamatan Panji.
Hasil produksi tebu di tiga PG yang akan ditutup tersebut cukup banyak, yaitu di PG Wringinanom produksi tebunya per tahun 1,6 juta kuintal, PG Olean 1,1 hingga 1,2 juta kuintal dan PG Panji sebanyak 3 juta kuintal per tahun.
Penutupan tiga pabrik tebu di Situbondo akan memiliki dampak cukup luas, selain masalah PHK Karyawan PG juga akan memicu lesunya perekonomian petani tebu. Karena saat ini ada 26 persen petani menggantungkan penghasilan dari tanaman tebu. (*)
