"Informasi dari warga bahwa hujan di kawasan lokasi semburan lumpur, berlangsung sejak siang hari sampai malam hari dengan intensitas cukup deras," ucapnya, menegaskan.
Bojonegoro (Antara Jatim) - Debit semburan lumpur bercampur air di Desa Jari, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang semula hanya 0,5 liter per detik, membesar menjadi sekitar 2 liter per detik, disebabkan pengaruh hujan di kawasan setempat.
Kasi Ketenteraman, Ketertiban dan Perlindungan Masyarakat (Trantib Linmas) Kecamatan Gondang, Bojonegoro Eko Wage, Kamis, menjelaskan, di kawasan lokasi semburan lumpur bercampur air, telah terjadi hujan deras sehari yang lalu.
"Informasi dari warga bahwa hujan di kawasan lokasi semburan lumpur, berlangsung sejak siang hari sampai malam hari dengan intensitas cukup deras," ucapnya, menegaskan.
Oleh karena itu, ia kemudian melakukan perhitungan debit lumpur bercampur air yang disalurkan melalui kanal ke sungai kecil di sekitar lokasi, secara manual.
"Beberapa hari lalu debitnya hanya 0,5 liter per detik, tapi dengan adanya hujan debitnya bertambah menjadi sekitar 2 liter per detik," ujarnya.
Dari perhitungan yang dilakukan itu, lumpur yang terambil bercampur air, dengan jumlah yang minim.
"Lumpurnya tidak banyak," tambahnya.
Ia memperkirakan luas semburan lumpur bercampur air, yang semula hanya di dua lokasi, juga melebar menjadi beberapa lokasi, bahkan tanah di lokasi semburan longsor. Tanah di lokasi semburan longsor, setelah hujan deras melanda daerah setempat.
"Perkiraan kami luas lokasi semburan sekitar 20 meter persegi," tandasnya.
Kepala Desa Jari, Kecamatan Gondang Sri Hamto, menjelaskan penanganan semburan lumpur bercampur air masih menunggu hasil penelitian yang dilakukan Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung.
Seharusnya, menurut dia, petani di desanya di sepanjang aliran Sungai Keramat dengan luas sekitar 200 hektare, sudah menanam padi lagi, juga bawang merah.
"Petani masih menunggu hasil penelitian yang dilakukan Badan Geologi terkait lumpur bercampur air yang masuk ke Kali Keramat. Sebab, air Sungai Keramat biasa dimanfaatkan petani untuk mengairi areal pertanian," ucapnya, menegaskan.
Peneliti Badan geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung Dr.Igan S. Suwidjaja, Msc., membenarkan meningkatnya debit semburan lumpur bercampur air, disebabkan hujan.
"Bertambahnya debit air yang keluar dari semburan lumpur, disebabkan hujan," jelas dia, ketika di lokasi semburan.
Semburan lumpur bercampur air di Desa Jari, Kecamatan Gondang, Bojonegoro, berlangsung sejak 7 April, yang sebelumnya didahului dengan gempa. (*)
Pewarta: Slamet Agus SudarmojoEditor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.