Kompetisi profesi akuntansi, baik lokal maupun asing sudah tidak bisa ditawar lagi apalagi kita sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sehingga dibutuhkan kecepatan dan ketepatan dalam merespon perubahan. Melalui olimpiade ini siswa dituntut secara tepat dalam membiasakan berpikir dan mengambil keputusan.
Surabaya (Antara Jatim) - Sebanyak 144 pelajar tingkat SMA/SMK se-Gerbangkertasusila (Gresik,

Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan) mengikuti

Olimpiade Akuntansi bertema "Professional Accountant for The Future"

yang digelar mahasiswa Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya.



Kepala Program Studi (Kaprodi) Akuntansi Unitomo Surabaya, Drs

Miftahol Horri, M.Si, Ak, CA, di Surabaya, Minggu, mengatakan Olimpiade

Unitomo "Accounting Challenge" (TOAC) untuk mencari benih-benih unggul

para calon profesional dalam bidang akuntansi.



"Kompetisi profesi akuntansi, baik lokal maupun asing sudah tidak

bisa ditawar lagi, apalagi kita sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi

ASEAN (MEA), sehingga dibutuhkan kecepatan dan ketepatan dalam merespona

perubahan. Melalui olimpiade ini siswa dituntut secara tepat dalam

membiasakan berpikir dan mengambil keputusan," katanya.



Ketua Panitia Himpunan Mahasiswa Akuntansi (Hima Ak) Unitomo, Yovi

Rihana, mengatakan dari 144 peserta terbagi atas 48 tim dengan

masing-masing tim memiliki tiga anggota.



TOAC terbagi menjadi beberapa babak, yaitu babak penyisihan, cerdas cermat, box question dan debat ilmiah.



"Olimpiade ini sudah digelar dua kali, namun memiliki perbedaan

dari tahun lalu yaitu tentang materi soal. Jika tahun lalu soal SMA dan

SMK disamaratakan, tahun ini soal dibedakan menurut kisi-kisi mata

pelajaran akuntansi di kurikulum sekolah, yakni soal untuk SMK lebih

mendalam daripada soal SMA," kata dia.



Ia mengatakan dalam babak debat ilmiah, para peserta akan

dianjurkan menjawab kisi-kisi materi yaitu optimisme dan pesimisme

akuntan muda di Indonesia, penyebab dan penyelamat (solusi) krisis umum

yang dialami akuntan, dan dilema etika akuntan.



"Di Indonesia isu dilema etika akuntan ini berkembang seiring

dengan terjadinya beberapa pelanggaran etika yang dilakukan oleh akuntan

publik, akuntan internal, maupun akuntan pemerintah. Dilema etika

muncul sebagai konsekuensi konflik audit karena auditor berada dalam

situasi pengambilan keputusan," tuturnya.



Hal senada diungkapkan juri TOAC, Lintang Venusita, SE. Ak, MSi,

CA. Ia menuturkan pada situasi konflik audit, maka auditor berada dalam

situasi pengambilan keputusan yang terbentuk karena dalam konflik

terdapat ada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap keputusan auditor.





"Auditor akan dihadapkan kepada pilihan keputusan antara yang etis

dan tidak etis. Ketika keputusan profesional didasarkan pada keyakinan

dan nilai individual, maka penalaran moral memainkan peranan penting

dalam keputusan akuntan," kata anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia

(ISEI) itu.



Menurut dia, penanaman kode etik akuntansi secara dini sangat

dianjurkan untuk memperkuat hubungan antara kepatuhan terhadap kode etik

dan perilaku profesional.



Dalam olimpiade akuntansi tersebut memperebutkan hadiah juara I

dengan nominal Rp1,5 juta dan beasiswa masuk Unitomo 50 persen, juara II

sebanyak Rp1 juta dengan beasiswa masuk Unitomo 40 persen, dan juara

III senilai Rp750 ribu dan beasiswa masuk Unitomo 30 persen. (*)


Pewarta: Laily Widya Arisandhi
Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026