"Masalahnya persediaan air tanah untuk suplai kolam juga tidak mencukupi. Satu-satunya jalan hanya dengan merotasi air melalui sirkulasi buatan menggunakan mesin pompa listrik," ujar Mursyid, peternak ikan hias di Kelurahan Jepun.
Tulungagung (Antara Jatim) - Sejumlah peternak ikan hias di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur mulai mengeluhkan peningkatan suhu udara (cuaca ekstrem) selama beberapa hari terakhir karena berdampak terhadap kesehatan dan ketahanan hidup ikan peliharaan mereka di kolam-kolam penangkaran.
    
"Di musim kering yang berkepanjangan seperti ini, risiko kematian ikan sangat tinggi karena suhu udara saat siang dan malam tinggi," tutur peternak ikan hias di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Ansori, Senin.
    
Selain faktor cuaca ekstrem, kata dia, kemarau juga memicu persebaran jamur maupun penyakit ikan lainnya.
    
Situasi yang tidak menguntungkan tersebut memaksa peternak untuk bekerja extra keras agar ikan peliharaannya tidak mati dan terhindar dari kerugian.
    
"Solusinya harus rutin mengganti atau merotasi air agar suhu tetap terjaga dan suplai oksigen mencukupi," ujarnya.
    
Keluhan yang sama diungkapkan peternak ikan hias jenis cupang dan mas koki di Kelurahan Jepun, Tulungagung.
    
Upaya penggantian air pada kolam penangkaran cukup efektif, namun tetap tak bisa menghindarkan dari risiko kematian akibat suhu udara yang terlalu panas saat siang hari.
    
"Masalahnya persediaan air tanah untuk suplai kolam juga tidak mencukupi. Satu-satunya jalan hanya dengan merotasi air melalui sirkulasi buatan menggunakan mesin pompa listrik," ujar Mursyid, peternak ikan hias di Kelurahan Jepun.
    
Dia mengakui untuk saat ini ikan hias sangat rawan terserang virus terutama cacar dan jamur pada insang yang langsung membusuk.
    
Penyakit ini mulai muncul karena cuaca yang panas pada siang hari dan dingin pada malam harinya.
    
Kondisi cuaca yang ekstrim seperti inilah yang mengakibatkan turunnya kualitas air yang membuat daya tahan ikan juga ikut menurun sehingga dalam setiap harinya ada ikan yang mati.
    
"Kebanyakan ikan yang mati karena insang membusuk," keluhnya. (*)


Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026