"Semakin berkurangnya air yang tersisa di Waduk Pacal, bisa membayakan bangunan waduk, sebab kondisi bangunan akan semakin kering," kata Kasi Operasi UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro Mucharom, Selasa.Bojonegoro (Antara Jatim) - Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro, Jawa Timur, menyatakan air Waduk Pacal yang berfungsi untuk mengamankan bangunan waduk hanya tersisa sekitar 400 ribu meter kubik.
"Semakin berkurangnya air yang tersisa di Waduk Pacal, bisa membayakan bangunan waduk, sebab kondisi bangunan akan semakin kering," kata Kasi Operasi UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro Mucharom, Selasa.
Ia memperkirakan air yang tersisa di Waduk Pacal, masih akan terus berkurang, disebabkan menguap.
"Pada awal kemarau kami menyisakan air di tampungan waduk sekitar 800 ribu meter kubik. Tapi, karena faktor panas, maka airnya terus menyusut, disebabkan menguap," ucapnya.
Padahal, menurut dia, sesuai prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Juanda, Surabaya, di daerah Bojonegoro dan sekitarnya, musim hujan jatuh pada Oktober.
"Kalau kondisi waduk kering, bisa mengakibatkan bangunan bendungan mengalami retak-retak," ujarnya.
Berdasarkan pemantuan yang dilakukan, katanya, kondisi bangunan Waduk Pacal, saat ini masih aman.
"Air yang berada di sekitar pintu pengeluaran masih mencukupi untuk mengamankan bangunan waduk," katanya, menegaskan.
Pantauan Antara, air yang tersisa di Waduk Pacal, di Desa Kecungsumber, Kecamatan Temayang, tidak hanya di sekitar pintu pengeluaran, tapi juga di lokasi lainnya.
Menjawab pertanyaan, Mucharom menyatakan tidak bisa melarang warga memanfaatkan lokasi waduk untuk menanam tanaman padi.
"Kami tidak bisa mencegah warga menanam tanaman padi di waduk. Ya, jelas adanya tanaman padi akan semakin memperbesar sedimen," jelas dia.
Data di kantor Dinas Pengairan, Waduk Pacal memiliki daerah irigasi pertanian seluas 16.624 hektare di sejumlah desa, antara lain, di Kecamatan Sukosewu, Balen, Kapas, Sumberrejo, Kepohbaru, dan Baureno.
Pada awal dibangun Belanda pada 1933, Waduk Pacal mampu menampung air mencapai 42 juta meter kubik.
Namun sekarang daya tampungnya menurun, hanya sekitar 17 juta meter kubik, antara lain, disebabkan sedimen yang masuk waduk mencapai 15 ribu meter kubik per tahun, karena rusaknya daerah tangkapan air. (*)
Pewarta: Slamet Agus SudarmojoEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026