Di kawasan Ketintang, Surabaya, tepatnya di dekat Kampus Unesa, berjejer PKL yang menawarkan beragam makanan, mulai berbagai jenis kudapan juga ada makanan "kelas berat" seperti nasi rawoon, nasi soto ayam dan penyetan gurami plus lalapan. Namun, ada sebuah kedai yang di depannya terpampang "standing banner" kecil dengan tulisan mencolok sehingga dari kejauhan sudah terlihat, yakni "Tepo Pecel". Selidik punya selidik tenyata tepo adalah bahasa Magetan yang artinya lontong. Jadi tepo pecel... ya lontong pecel. Yang membedakan tepo pecel Magetan dengan lontong pecel lainnya adalah bumbu kacangnya yang murni tanpa digoreng, jadi dimasak dengan oven. Bumbunya mempunyai rasa yang pas. Pedesnya cukup dan rasanya gurih. "Tapi apabila pembeli minta rasa pedas, juga ada bumbu pedas," kata Retno yang baru buka kedai di Ketintang ini sebulan lalu sebagai cabang dari kedai utama di kawasan Bratang Gede. Pecel yang menggunakan sayur rebusan daun singkong, daun kenikir dan taoge pendek plus kemangi itu mempunyai ciri khusus, yakni adanya tambahan sesendok botok kacang tolo (kacang beras), ucap Retno, yang membuka kedainya mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB ini. Ia mengaku pada bulan pertama ia baru bisa menjual sekitar 20 bungkus, namun ia optimistis pada bulan-bulan berikutnya ia mampu menjual lebih banyak lagi, sesuai dengan nama kedainya, yakni Kedai "Imbo 1001 Kisah" , artinya setiap orang yang sudah pernah merasakan enaknya tepo pecel ini pasti akan imbo (nambah) lagi. "Ooh... pantesan saya kemarin sekali merasakan, sekarang ingin beli lagi," ujar Iin, salah seorang karyawati yang mengaku senang dengan rasa bumbu pecel di Kedai Imbo in. Menurut Iin, lontong yang berbentuk segitiga ini mempunyai rasa lembut dan empuk. "Tidak telalu mahal untuk ukuran Kota Surabaya, sebungkus tepo pecel ditambah krupuk puli dan sepotong tempe goreng dihargai Rp8.000. Namun, pembeli bisa menambah lauk telur ceplok atau ayam goreng, tentunya dengan harga yang beda," ujarnya. (*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026