Bangkalan (ANTARA) - Ada kalanya kampung halaman tidak datang dalam bentuk pemandangan. Ia tidak selalu hadir melalui jalan desa, suara azan dari masjid tua, atau wajah-wajah yang sudah lama tidak kita jumpai. Kadang-kadang kampung halaman datang dalam bentuk yang jauh lebih sederhana yakni sepiring rujak. Itulah yang saya alami sebagai seorang Madura perantauan.
Suatu ketika, jauh dari desa tempat saya tumbuh, mata saya menangkap seseorang yang sedang menjajakan rujak. Sekilas tidak ada yang istimewa. Warungnya sederhana. Peralatannya pun biasa saja.
Namun, ketika melihat cara bumbu itu diulek dan mengenali bahan-bahan yang digunakan, ada sesuatu yang tiba-tiba bergerak dalam ingatan. Saya seperti sedang pulang. Bukan pulang dengan kendaraan. Bukan pula pulang untuk bertemu keluarga. Hanya pulang melalui rasa. Saya menemukan rujak Madura yang kurang lebih seperti yang dahulu saya kenal di desa.
Di situlah saya kemudian berpikir bahwa ternyata makanan bukan sekadar perkara perut. Ada makanan yang menyimpan alamat kenangan. Bagi orang yang tidak memiliki pengalaman yang sama, rujak mungkin hanya rujak. Campuran sayuran, buah, lontong atau ketupat, tahu, dan bahan lain yang kemudian disiram bumbu.
Tetapi bagi seorang perantau seperti saya dan mungkin anda yang tengah merantau dan sudah lama, rasa bisa mempunyai cerita sendiri.
Petis, misalnya, bukan sekadar bumbu. Dalam rujak Madura, petis ikan memberikan karakter rasa yang kuat. Bumbu yang diulek, pedas cabai, rasa khas petis, segarnya irisan mentimun atau tauge dan kacang panjang rebus yang dipotong pendek-pendek, semuanya seperti menyimpan potongan-potongan masa lalu.
Dulu, mungkin kita memakannya tanpa pernah bertanya mengapa rasanya demikian. Kita hanya tahu bahwa ini rujak yang biasa kita makan di rumah. Baru setelah jauh dari rumah, kita sadar bahwa sesuatu yang dahulu terasa biasa ternyata sangat berharga. Merantau rupanya mengajarkan bahwa kita sering baru mengenali arti sebuah kebiasaan setelah kebiasaan itu tidak lagi berada di dekat kita.
Rujak Madura sendiri bukan sesuatu yang tunggal. Variasinya cukup beragam di berbagai daerah. Bahkan penelitian tentang kuliner Madura menunjukkan bahwa rujak mengalami perkembangan dan perubahan sebagai bagian dari perjalanan interaksi serta adaptasi budaya.
Barangkali memang demikian watak makanan. Ia tidak pernah benar-benar diam. Makanan ikut bergerak bersama manusia. Orang Madura yang merantau misalnya, membawa serta kebiasaan makan, bumbu, resep, dan selera. Di tempat baru, semuanya kemudian bertemu dengan bahan, kebiasaan, dan selera masyarakat setempat.
Karena itu, menemukan rujak Madura di luar Madura sebenarnya bukan sesuatu yang mengherankan. Orang Madura memang dikenal sebagai masyarakat perantau. Kuliner pun ikut merantau bersama mereka.
Hal yang menarik justru ketika kita menemukan rasa yang masih terasa seperti rumah. Di tengah berbagai perubahan, ada sesuatu yang ternyata masih bertahan.
Padahal, tradisi kuliner tidak hidup karena foto. Ia hidup karena seseorang masih mau mengulek bumbu. Ia hidup karena seseorang masih tahu petis mana yang digunakan. Ia hidup karena seorang ibu masih mengajarkan kepada anaknya bagaimana membuat bumbu. Ia hidup karena seorang pedagang masih bangun pagi untuk menyiapkan bahan jualannya. Dan ia hidup karena masih ada orang yang mau membelinya.
Dengan kata lain, pelestarian kuliner bukan sekadar menyimpan resep, melainkan mempertahankan ekosistem yang membuat resep itu terus dipraktikkan. Ini yang barangkali sering kita lupakan. Kita senang menyebut makanan sebagai warisan budaya, tetapi terkadang lupa bahwa warisan hanya akan menjadi warisan jika ada generasi yang bersedia meneruskannya.
Setelah menemukan rujak yang rasanya seperti rujak di desa dahulu di sekitar Makam Keputih Surabaya ini, saya baru menyadari bahwa selama ini ada bagian dari kampung halaman yang ternyata saya bawa ke mana-mana.
Ia bukan dalam koper. Bukan dalam alamat. Bukan pula dalam foto-foto lama. Ia tersimpan dalam lidah.
Mungkin itulah sebabnya makanan mempunyai kekuatan yang kadang tidak dimiliki oleh benda lain. Sebuah lagu bisa mengingatkan kita pada masa lalu. Sebuah foto bisa membawa kita kepada seseorang. Tetapi makanan bisa membuat masa lalu seolah-olah hadir kembali di hadapan kita.
Saya makan rujak itu, dan sejenak jarak terasa tidak terlalu jauh. Desa seperti mendekat. Masa kanak-kanak seperti kembali. Orang-orang yang dahulu mungkin tidak pernah terpikir akan saya rindukan tiba-tiba muncul dalam ingatan. Dan saya kemudian berpikir, mungkin tugas kita terhadap kuliner tradisional bukanlah membuatnya tetap persis seperti masa lalu.
Tugas kita adalah membuatnya tetap punya masa depan.
Rujak Madura harus boleh tumbuh, beradaptasi, dan menemukan pembeli-pembeli baru. Tetapi ia juga harus tetap mampu melakukan sesuatu yang sederhana dan sangat manusiawi yaitu membuat seorang perantau, di suatu tempat yang jauh dari kampungnya, mencicipi satu suapan lalu berkata dalam hati, "Ini rasa yang dulu saya kenal".
Barangkali, itulah makna paling sederhana dari melestarikan kuliner. Bukan sekadar menyelamatkan makanan dari kepunahan. Melainkan menyelamatkan ingatan manusia tentang dari mana ia berasal.
Dan siang itu, dari sepiring rujak Madura, saya seperti menemukan jalan pulang. Tidak menuju sebuah desa. Tetapi menuju sepotong diri saya sendiri.
*) Bustomi, MIP adalah mahasiswa program doktoral FISIP Unair yang berasal dari Desa Mandung, Kokop, Bangkalan, Madura.
Pewarta: Bustomi *)Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.