Kediri (Antara Jatim) - Inflasi yang terjadi di Kediri, Jawa Timur, pada Oktober 2014 relatif rendah sampai 0,32 persen jika dibandingkan dengan daerah lain yang dijadikan sebagai penimbang inflasi di Jatim. "Inflasi di Kota Kediri terjadi karena adanya kenaikan harga pada beberapa kelompok pengeluaran," kata Kepala Seksi Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Lulus Hariyono di Kediri, Selasa. Kelompok itu, kata dia, seperti, kelompok kesehatan sebesar 1,26 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,59 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,56 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,45 persen, kelompok Ssandang sebesar 0,12 persen, dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen. "Satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok bahan makanan sebesar -0,12 persen," katanya. Sementara itu, sumbangan terbesar pada inflasi di Kota Kediri pada Oktober 2014 adalah beras, tarif listrik, cabai merah, bawang merah, nasi dengan lauk, bahan bakar rumah tangga, Jeruk, tomat sayur, bandeng/bolu, dan mobil. Dari delapan kota di Jawa Timur yang dihitung sebagai penimbang IHK – Inflasi Nasional, pada Oktober 2014 seluruhnya mengalami kenaikan indeks atau inflasi. Inflasi tertinggi di Jawa Timur terjadi di Kota Sumenep sebesar 0,65 persen, diikuti oleh Kota Banyuwangi sebesar 0,51 persen. Surabaya inflasinya 0,49 persen, Probolinggo 0,46 persen, Madiun 0,46 persen, Malang 0,40 persen, Kediri 0,32 persen, dan terendah adalah Jember 0,12 persen. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026