Bojonegoro (Antara Jatim) - Menu berbagai aneka makanan di pedagang makanan Ngasiran (57), di tengah kawasan Pasar Kota, Bojonegoro, Jawa Timur, yang buka malam hari menjadi favorit berbagai kalangan warga di daerah setempat yang datang bersama keluarga untuk santap malam. Meskipun, para pembeli, yang datang untuk makan di tempat atau dibungkus untuk dibawa pulang, harus rela antre dengan berdiri di depan warungnya yang terbuka. "Menu yang paling disukai pembeli nasi pecel dan kare, bahkan seringkali ada pembeli yang minta dibungkuskan nasi pecel 100 bungkus," jelas Ngasiran, dalam perbincangan dengan Antara, Kamis (15/10). Ia memberikan gambaran untuk melengkapi lauk nasi pecel, dengan menyediakan lauk tempe, sehingga rata-rata tempe yang digoreng di lokasi warungnya secara langsung sebanyak 20 "lonjor" tempe (per lonjor 50 tempe). Selain itu, ia juga menghabiskan 20 kilogram terigu untuk lauk "ote-ote", sebagai pelengkap nasi pecel. "Saya menggoreng tempe dan ote-ote langsung di warung, sehingga sekali goreng saya memanfaatkan 25 liter minyak curah yang langsung saya masukan penggorengan," paparnya. Warung Ngasiran, secara rutin buka sejak pukul 17.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB, dan rata-rata mampu menghabiskan 50 kilogram beras/hari. Mengenai pembelinya, menurut Ngasiran, tidak hanya tukang becak, tetapi juga kalangan atas, seperti Bupati Bojonegoro Suyoto. "Makanan saya ini pernah langsung diborong Pak Suyoto, yang kemudian dimakan bersama dengan pembeli yang datang," ucapnya. Mengenai tenaga yang terlibat di warung setempat, jelasnya, selama ini Ngasiran, yang hanya bertugas menggoreng tempe dan ote-ote, sedangkan yang melayani pembeli ada tujuh pekerja." "Ada lima petugas bagian memasak makanan termasuk saya," jelas Lastri, istri Ngasiran. Ditanya tidak berkeinginan membuka warung yang lebih representatif, Ngasiran, yang membuka makanan sejak 2005 itu, menjelaskan soal mencari lokasi yang lebih bagus bukan hambatan yang serius. Tapi, menurut dia, di tempat yang bagus belum tentu membawa keberuntungan, sebab di lokasinya yang sekarang masyarakat kalangan bawah, seperti tukang becak, juga masyarakat atas tidak segan datang makan di warungnya. "Kalau di tempat bagus jelas tukang becak tidak berani makan di warung saya," ujarnya. Padahal, di warung setempat Ngasiran memasang menu makanan cukup murah yaitu nasi pecel hanya dengan nasi dan dua tempe ditambah es teh Rp7.000/porsi. "Omzet saya rata-rata lebih dari Rp5 juta sehari," tambahnya. Selain itu, di warung setempat juga menyediakan berbagai aneka makanan lainnya, antara lain, sayur lodeh, sayur ikan "pe", goreng cumi, lalapan kangkung, bahkan lalap jengkol dan berbagai aneka makanan lainnya, yang harganya juga terjangkau. "Soal menu makanan saya enak atau tidak yang menilai pembeli. Yang jelas pembeli selalu datang lagi, bahkan rela antre menunggu giliran dilayani," ucap Ngasiran. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026