Surabaya (Antara Jatim) - Teatrikal Seni Tayub Modern yang dimainkan empat anggota "Sae Sanget (SS) Community" Probolinggo menandai peluncuran buku "Negeri Atas Angin" karya sastrawan Wina Bojonegoro di Perpustakaan Bank Indonesia (Heerlijk Gelato), Jalan Taman Mayangkara, Surabaya, Minggu malam. "Ya, peluncurannya hanya itu, ada teatrikal, pembacaan cerpen, dan sketch on the spot, bahkan saya akan meramaikan dengan lantunan tembang ala sinden. Intinya, saya ingin mengatakan bahwa sastra itu sumber seni, apakah nyanyian, drama, cerpen, puisi, sketsa, atau apa," kata Wina Bojonegoro di sela-sela teatrikal. Peluncuran diawali dengan teatrikal selama 30 menit dari kelompok SS Community (SSC) Probolinggo tentang penari tayub bernama Darmini yang menceritakan konflik internal antara sindir dan tayub serta konflik eksternal dengan sang juragan bernama Karsono van Kalitidu. Selanjutnya, Deny Tri Aryanti pun membacakan sebuah cerpen dalam buku ke-8 karya Wina Bojonegoro, lalu Wina melantunkan tembang "Ojok Turu Sore-Sore" ala sinden yang diiringi demonstrasi sketsa dari enam Sketser Surabaya yang menuangkan sketsa "on the spot" tentang apa yang didengar dan dilihatnya. "Itu tembang spiritual bahwa sandang pangan itu milik orang yang tidak tidur sore dan berdoa di malam hari, karena Tuhan berkeliling dunia pada malam hari dengan membawa bokor mas," kata Wina. Tentang bukunya, Wina menjelaskan bukunya ke-8 itu merupakan kumpulan cerpen berisi 22 cerpen yang ditulis sejak 2013. Sekitar 70 persen adalah cerpen-cerpen yang telah dipublikasikan di berbagai media massa. "Benang merah dari 22 cerpen itu cerita tentang perempuan dari berbagai sentuhan, seperti politik (Dunia Angka dan Pulang), kisah romantis (Pada Sebuah Danau), perjuangan perempuan dalam ekonomi (Langlang dan Kelana), perselingkuhan (Catatan Wanita Lain dan Istri untuk Suamiku), dan sebagainya," katanya. Ada pula kritik sosial yang dibalut dengan asmara (Tentang Pemetik Teh, dan Mas-Mas dan Perempuan yang Menikahi Kura-Kura), dan fenomena sosial budaya (Negeri Atas Angin). "Negeri Atas Angin juga diambil dari sebuah nama wilayah yang benar-benar ada di Bojonegoro, yakni Atas Angin," katanya. Negeri Atas Angin (NAA) mengisahkan tentang kehidupan seorang sindir/tayub di wilayah terpencil Kabupaten Bojonegoro, lalu ia menderita sakit, hidup menumpang, dan harus menjadi "piala" bagi para lelaki untuk membayar "utang" hidupnya. Wina Bojonegoro terlahir dengan nama Endang Winarti di kawasan hutan jati, Ngasem, Kabupaten Bojonegoro pada 10 Agustus 1962 (sesuai KTP), lalu mengenyam pendidikan SDN 1 di Ngasem, dilanjutkan SMP PGRI di Ngasem, SMA di Kota Bojonegoro, dan SMPP Bojonegoro (lulus tahun 1982), lalu Wina mengadu nasib di Surabaya. (*)
Berita Terkait
Penangkaran Rusa di Bojonegoro Jadi Wisata Edukasi
20 Maret 2017 06:18
Pemkab Bojonegoro Harapkan Wisata Salak Tingkatkan Ekonomi (Video)
26 Januari 2017 12:10
26 Kuliner Olahan Salak Bojonegoro Ikuti Festival
25 Januari 2017 14:57
Wisata Kuliner Tahu Bojonegoro Mulai Diminati Wisatawan Domestik
17 Januari 2017 08:41
Paguyuban Tahu Bojonegoro Minta Pemkab Benahi Lingkungan
19 Desember 2016 08:35
Keuntungan Perajin Tahu Bojonegoro Berkurang 30 Persen
6 Desember 2016 17:26
Bojonegoro "Travel Fair" 2016
3 November 2016 19:30
Indahnya "Sunrise" di "Negeri Atas Angin" Bojonegoro
15 Oktober 2016 22:07
