Surabaya (Antara Jatim) - Para pebisnis wisata di Surabaya khususnya, Jatim umumnya, "harus" bisa memanfaatkan maskapai penerbangan berbiaya murah (LCC) Citilink yang mulai melayani jalur internasional (regional) perdananya pada Sabtu (15/3) dengan menerbangi Surabaya - Johor Bahru. Harapan itu dikemukakan oleh Konsul Jenderal (Konjen) RI di Johor, Malaysia, Taufiqur Rijal dan CEO Citilink Arif Wibowo, kepada rombongan jurnalis dan pelaku pariwisata dari Surabaya dan Jakarta yang mengikuti "famtrip" di Johor terkait penerbangan perdana Citilink tersebut, 15 hingga 17 Maret lalu. "Jangan sebaliknya, adanya penerbangan antar-dua kota negara bertetangga Surabaya (Indonesia) - Johor Bahru (Malaysia) justru dimanfaatkan oleh mereka (Jiran), di mana justru banyak WNI berwisata ke sini, tapi harus sebaliknya banyak warga Malaysia melancong ke Jatim. Minimal sama-sama saling menguntungkan," ucap Taufiqur Rijal. Taufiqur yang baru menjabat sebagai Konjen RI di Johor pada September tahun lalu ini, berharap pemerintah dan kalangan pebisnis wisata di Jatim, mampu menarik minat warga Malaysia, khususnya Johor untuk melancong ke Jatim. "Banyak obyek wisata budaya, alam dan buatan yang unik dan menarik serta spektakuler di Jatim yang tidak ada di Johor. Paket wisata menarik dan unik ini bisa dikemas dan dipromosikan kepada masyarakat Johor khususnya dan Malaysia umumnya," tutur Konjen. Peluang itu cukup terbuka, pasalnya warga Johor atau Semenanjung Malaka yang terdiri atas empat negara bagian (lingkup kerja Konjen RI di Johor) yaitu Johor, Negeri Sembilan, Malaka dan Pahang, lebih banyak berwisata ke Singapura, karena kedekatan jarak. Menuju Negeri Singa, dari Johor hanya cukup menyeberang selat dihubungkan jembatan waktu tempuh 30 menit. Sementara wisata di Singapura hanya mengandalkan wisata buatan dan jasa dengan biaya yang cukup mahal, di mana Singapura kini menjadi kota termahal di dunia. "Ini yang harus dimanfaatkan pemerintah dan pebisnis wisata di Jatim, untuk menarik warga Johor khususnya, Malaysia umumnya berwisata ke Jatim dengan adanya penerbangan langsung Surabaya-Johor Bahru oleh Citilink," ujar Taufiqur Rijal yang sebelumnya menjabat Karo Protokol Setwapres. Kelengkapan dan karagaman serta keunikan yang spesifik obyek wisata dengan biaya tentunya lebih murah dibanding Singapura dan Malaysia sekalipun, harus menjadi keuntungan tersendiri bagi Jatim. Tinggal kemasan wisata dan promosi gencar serta pelayanan profesional perlu ditekankan. Arif Wibowo menuturkan bahwa pemerintah dan pebisnis wisata di Jatim bisa mepromosikan destinasi wisata di daerahnya ke Johor dan Citilink bisa membantu sebagai maskapai penerbangan pelat merah, anak usaha Garuda Indonesia. Banyak obyek wisata alam, budaya, olahraga dan reliji serta menjual "heritage" sangat unik dan menarik di Jatim bisa dipromosikan kepada warga Malaysia. Untuk itu masing-masing daerah (kabupaten/kota) di Jatim mampu menampilkan dan mempromosikan serta menawarkan unggulan masing-masing. "Kita bantu dan mendukung promosinya. Kita berupaya menarik wisatawan Malaysia ke Jatim khususnya dan Indonesia umumnya, tentunya memanfaatkan Citilink," ucap Arie sambil tersenyum. Langkah selanjutnya, Citilink dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim akan melaksanakan hal serupa, yaitu "famtrip" bagi jurnalis dan pelaku pelancongan di Johor ke Jatim. "Cara itu ditempuh, agar makin banyak warga Johor mengenal dan mengetahui serta tertarik untuk ke Jatim," tukas Arif Wibowo. TKI Citilink melayani penerbangan langsung dari dan ke bandara Internasional Juanda Surabaya-bandara Internasional Senai Johor Bahru sehari sekali, karena pertimbangan pasar, yaitu melayani para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja dan tinggal di Semenanjung Malaka. Berdasarkan catatan KJRI di Kuala Lumpur ada 485 ribu-an orang WNI yang tinggal dan bekerja di lingkup kerja Konjen RI di Johor."Tapi itu yang tercatat resmi, jumlah ril WNI di empat negara bagian di Semenanjung Malaka sedang kita data," tutur Taufiqur Rijal. Menurut dia, adanya penerbangan langsung oleh Citilink dengan pesawat Airbus A-320 terbaru ini sudah diwartakan oleh pihak Konjen maupun media di Johor, dan pada umumnya WNI di sini menyambut baik. "Senang Pak! Kalau pulang jadi lebih mudah. Nggak sampai dua juta rupiah," ujar Sarmiatun (52), WNI asal Madura yang sudah belasan tahun bekerja di salah satu perkebunan sayur di Johor. Tiket Surabaya-Johor Bahru sekali jalan Rp900 ribu sudah termasuk "airport tax". Hal senada dikemukakan oleh Sartono (36) asal Probolinggo, Jatim, yang saat penerbangan perdana mencoba terbang dengan Citilink dari Johor Bahru ke Surabaya, bersama dengan lima rekan sekampung yang bekerja di sektor bangunan. "Memang ada maskapai sini (LCC Malaysia) yang lebih dulu melayani jalur Johor Bahru-Surabaya, bahkan tarifnya jadi turun setelah Citilink masuk. Tapi kalau tarif beda sedikit dan layanan serta fasilitas sama ya lebih enak pakai maskapai Indonesia. Ya nasionalis gitu Pak!" seru Sartono sambil terbahak. Arif Wibowo mengakui bahwa pasar utama Citilink Surabaya-Johor Bahru adalah para TKI asal Jatim yang bekerja di kawasan Semenanjung Malaka, sementara para pebisnis atau wisatawan prosentasenya ada tapi masih sedikit. Populasi penduduka Jatim sekitar 40 juta jiwa dan Surabaya 3,2 juta jiwa, sementara Malaysia 25-an juta dan Johor hanya 4 juta serta Kota Johor Bahru hanya 1,7 juta jiwa. Namun, pendapatan perkapita masih besar warga Malaysia, sehingga diupayakan makin banyak warga Jiran ke Jatim untuk berbisnis maupun melancong. "Untuk itu, segera kita lakukan 'famtrip' para jurnalis dan pebisnis serta pelaku wisata di Johor ke Jatim," tuturnya. Setelah Johor Bahru, armada pesawat Airbus-320 Citilink akan merambah jalur internasional lainnya secara langsung dari Surabaya ke Kuala Lumpur (awal April 2014), Singapura (Mei), selajutnya Hong Kong, Taiwan dan Perth, Australia. Pemilihan Kota Pahlawan, Surabaya sebagai penerbangan jalur internasional, karena pertumbuhan ekonomi Jatim yang pesat di atas rata-rata nasional. Ekspansi bisnis regional merupakan strategi Citilink untuk melengkapai target yang menetapkan 8,2 juta penumpang selama 2014. "Pertumbuhan kawasan Asia, terutama Asia Timur dan Asia Tenggara, membuat Citilink mengembangkan kegiatannya yang sebelumnya berfokus ke penerbangan domestik. Ada 24 pesawat A-320 dioperasikan Citilink, dan tahun ini secara bertahap bertambah delapan unit lagi (jadi 32 pesawat)," ujar Arif Wibowo yang juga Ketua INACA (asosiasi perusahaan penerbangan nasional) ini.(*)
Berita Terkait
Danantara targetkan pesawat grounded Garuda kembali beroperasi 2026
14 November 2025 16:13
Bandara Kediri dijadwalkan kembali beroperasi
24 Oktober 2025 22:55
Korban pelecehan penumpang Citilink dapat pendampingan psikologis
17 Juli 2025 13:45
SOEs minister confirms Garuda Indonesia-Pelita Air merger to proceed
3 Januari 2025 15:01
Pesawat Garuda layani 77.552 penumpang pada puncak Nataru
25 Desember 2024 05:40
Gangguan IT global pengaruhi layanan maskapai di Bandara Soetta
19 Juli 2024 20:18
Pilot Citilink meninggal sesaat usai pesawatnya mendarat darurat di Juanda
21 Juli 2022 19:56
Citilink dan Wings Air layani penerbangan di Bandara Trunojoyo Sumenep
30 April 2022 11:30
