Malang (Antara Jatim) - Pengamat ekonomi Universitas Brawijaya Malang Prof Ahmad Erani Yustika mengemukakan selama ini pemerintah hanya sibuk mendesain insentif yang mampu mendorong investasi asing atau penanaman modal asing ketimbang domestik.
"Sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda Kementerian Keuangan (Kemenkeu) maupun BKPM mendesain insentif untuk mendorong investasi domestik skala besar, bahkan nyaris nol. Tapi, sangat sibuk memberikan investasi asing agar mau menanamkan modalnya di Indonesia melalui penanaman modal asing (PMA)," tegas Erani di Malang, Kamis.
Bahkan, lanjut Erani, investasi dalam negeri atau penananam modal dalam negeri (PMDN) semakin terpinggirkan dan tidak mendapatkan akses seperti calon investor asing.
Seharusnya, tegas Erani, pemerintah memberikan peluang investasi lebih besar kepada investor domestik. "Saya yakin masih banyak investor dalam negeri (domestik) yang mampu berinvestasi dalam skala besar, namun kesempatan dan insentif dari pemerintah yang belum 'bersahabat'," tegasnya.
Menyinggung berbagai persoalan perekonomian di Tanah Air selama kurun waktu 2013, Erani mengatakan masih banyak yang harus dibenahi, terutama sektor-sektor sentral.
Ia mencontohkan hancurnya sumber daya energi di Indonesia bukan karena negeri ini tidak memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, tapi kebijakan pemerintah yang banyak sekali disusun atas intervensi dari berbagai pihak dan kepentingan, termasuk kepentingan asing.
Perdagangan migas dan nonmigas pada tahun ini, katanya, juga mengalami defisit karena Indonesia terlalu berani dengan sistem pasarnya yang terbuka.
Kondisi seperti ini, lanjutnya, yang membuat rakyat Indonesia belum bisa menikmati kekayaan alamnya secara maksimal karena SDM maupun kemampuan dalam negeri juga belum diberdayakan secara optimal.
Erani meyakini jika problem-problem ekonomi yang menyelimuti tahun 2013 bisa dituntaskan, tahun depan perekonomian Indonesia akan semakin bagus dan kuat dan tidak akan mudah porak poranda oleh kondisi ekonomi negara lain.
"Selama ini kondisi perekonomian kita masih abnyak bergantung dengan ekonomi negara lain, ketika perekonomian di Eropa, Amerika atau negara maju lainnya goyah, perekonomian kita juga ikut goyah. Kondisi ini yang harus kita perbaiki agar kita tetap kuat, meski perekonomian negara lain goyah," katanya, menandaskan.(*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026