Pacitan (Antara Jatim) – Memang banyak obyek maupun tempat menarik yang bisa menjadi "santapan enak" bagi mereka pecinta seni fotografi, tapi mungkin eksotikanya tak akan sehebat Pantai Klayar yang terletak di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan.
Setidaknya itulah kalimat yang terbersit dalam benak, saat kaki mulai menginjak pasir putih yang terhampar begitu indah di bibir Pantai Klayar.
Suasana pantai yang alami, pohon 'nyiur' kelapa yang masih tegak berdiri sembari terus melambai-lambai, hingga 'nyanyian' riuh debur ombak membentur karang bersahutan dengan suara angin, seakan ingin menyambut siapa saja yang datang ke salah satu nirwana yang keindahannya konon sebanding, bahkan melebihi Tanah Lot di Tabanan, Bali.
Tak banyak nelayan terlihat di pantai ini, apalagi pelancong. Keramaian biasanya sedikit meningkat pada akhir pekan atau liburan.
Namun, suasana yang sepi dan natural itu justru menjadi keistimewaan tersendiri bagi pecinta fotografi. Lensa kamera dengan leluasa bisa diarahkan untuk memotret obyek-obyek yang ada, hingga detil ornamen batuan karang atau debur ombak saat memecah di bebatuan karst tersebut, dan lalu menyembur ke atas seperti air mancur alami.
Ada juga sungai-sungai kecil yang bermuara di Pantai Klayar. Sungai dangkal tersebut bisa dilewati dengan jalan kaki, karena kedalamannya hanya sepaha orang dewasa di beberapa titik.
Di sisi timur pantai, pengunjung bisa dengan mudah menemukan dua bongkahan karang setinggi pohon kelapa. Sebegitu indahnya, karang dari batuan karts yang terukir secara alami akibat gerusan ombak tersebut, kerap dijuluki sebagai patung sphinx (kepala singa) seperti yang ada di Mesir.
Selain air mancur yang kerap disebut dengan julukan "seruling samudera", dua karang raksasa di sisi timur Pantai Klayar itu menjadi ikon-ikon favorit yang selalu diburu wisatawan ataupun fotografer.
Pemandangan tak hanya indah jika dinikmati dari bibir pantai, tapi juga dari atas tebing karang besar berketinggian sekitar 50 meter di sisi barat pantai.
Di atas karang itu, pengunjung ataupun pemburu foto lanskap bisa melihat pemandangan pantai secara keseluruhan.
Tak cukup hanya menikmati pemandangan dan berfoto-ria, sebagian pengunjung yang memiliki keahlian "surfing" alias selancar dan adrenalin lebih biasanya akan mencoba merasakan derasnya ombak di Pantai Klayar yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.
"(Pantai) Klayar adalah salah satu surga bagi para surfer domestik maupun mancanegara," ujar David, jurnalis lokal Pacitan.
Begitulah, Pantai Klayar menyimpan banyak keindahan yang unik dan meyimpan misteri. Keindahan yang ada di antaranya adalah hamparan pasir putih, karang raksasa yang menonjol angkuh di antara lepas pantai, seruling laut, air mancur alami, sungai di antara dua laguna, hingga kehidupan adatnya yang masih murni.
Sayang, nasib obyek wisata pantai yang terbentuk dari abrasi batuan karst ini belum banyak tersentuh pengembangan. Akses jalannya belum sepenuhnya "nyaman" bagi pengendara, untuk ukuran pengembangan sektor pariwisata.
Padahal, pantai yang memiliki panjang sekitar 500 meter ini menyimpan banyak potensi wisata dan bisa dikelola dengan baik.
"Ada harapan lebih, setelah Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) kemarin (pekan lalu) mengunjungi tempat ini dan mengajak Kementrian Pariwisata serta pemerintah daerah untuk mengembangkan lagi Pantai Klayar sebagai salah satu obyek wisata andalan di Jatim," ujar Purwo, salah seorang fotografer amatir asal Pacitan, penuh ekspektasi.
Usulan Geopark
Informasinya, bebatuan di kawasan Pantai Klayar merupakan salah satu titik yang diajukan ke United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Geopark yang diajukan ke Unesco itu bernama Gunung Sewu, sedangkan kawasan karst yang masuk di dalamnya tersebar di tiga provinsi, yakni di wilayah Pacitan barat, Wonogiri (Jateng), dan Gunung Kidul (Yogyakarta).
Di Pacitan saja, ada sedikitnya 10 situs geologi yang masuk ke dalam usulan geopark atau taman dunia, di antaranya, stalaktit dan stalakmit Goa Gong di Desa Bomo, Kecamatan Punung; karst di Pancer Door yang masuk Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan; karst di Pantai Klayar yang masuk wilayah Desa Sendang, Kecamatan Donorojo; dan Sungai Basooka di Desa Punung, Kecamatan Punung.
Khusus di Pantai Klayar, situs penting yang menjadi rekomendasi sebagai geosit ata bagian dari taman dunia adalah dua bongkahan karang raksasa yang terbentuk dari batuan karst setempat yang mengalami abrasi oleh ombak selama ribuan tahun silam.
Penduduk dan para pengunjung biasa menyebut deretan karang karst tersebut sebagai seruling samudera, karena kedua geosit tersebut acap kali muncul suara misterius di sertai semburan air ke atas menyerupai air mancur.
Banyaknya karang yang berlubang sehingga memungkin air laut dan angin memasuki karang d antara gunungan batuan karst yang menjulang tersebut membuat ombak yang datang dengan mudah memasuki setiap celah-celah kecil karang ini, sehingga air menyembur ke atas hingga ketinggian 10 meter.
Uniknya, ketika muncrat, tak jarang air mancur ini mengeluarkan suara aneh mirip seruling. fenomena alam inilah yang kemudian membuat masyarakat dan pengunjung menjuluki situs tersebut dengan istilah seruling laut atau seruling samudera. Di sebelahnya lagi terletak air terjun setinggi dua meter.
Seruling samudera itu merupakan salah satu situs geologi (geosite) yang dimasukkan dalam obyek geopark di Pacitan.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Pangestu dalam satu kesempatan saat mendampingi kunjungan kerja Presiden Susilo Yudhoyono memastikan usulan geopark saat ini dalam tahap penilaian tim Unesco.
"Kemenparekraf bersama-sama pemerintah daerah terus berupaya mempercantik kawasan karst di kawasan Pegunungan Sewu yang telah diusulkan ke Unesco untuk masuk Geopark Dunia," jelasnya.
Presiden Yudhoyono dalam kesempatan yang sama juga mengapresiasi upaya Kemenparekraf maupun pemerintah daerah dalam mengusulkan kawasan pantai karst ini sebagai taman dunia (geopark).
Dikatakan, keunikan dan keindahan Pantai Klayar sangat memesona, berbeda dengan objek wisata di tempat lain, karena terbentuk dari struktur geokarst atau pegunungan kapur yang sangat luas.
"Ada tantangannya dan turis akan senang. Tinggal di 'set-up' dan mari kita pikir bareng-bareng," ucap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat itu.
Di Pacitan, ada 10 situs geologi yang masuk ke dalam usulan geopark, di antaranya, stalaktit dan stalakmit Goa Gong di Desa Bomo, Kecamatan Punung; karst di Pancer Door yang masuk Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan; karst di Pantai Klayar yang masuk wilayah Desa Sendang, Kecamatan Donorojo; dan Sungai Basooka di Desa/Kecamatan Punung.
Upaya mempercantik keindahan bebatuan di dalam Goa Gong antara lain akan dilakukan dengan mengganti sejumlah lampu yang sudah terpasang menggunakan penerangan yang dipakai lebih hemat energi.
Sementara di Pantai Klayar, pembangunan infrastruktur jalan, prasarana dasar layanan umum, serta pengembangan sarana telekomunikasi dan perhotelan menjadi prioritas.
"Aset geologi itu bisa jadi wadah untuk pendidikan geologi, sejarah, sekaligus tempat pariwisata. Potensi ini menjadi momentum promosi kawasan karst gunungsewu melalui Geopark, sehingga sektor pariwisata di Pacitan semakin meningkat," kata SBY.
Bagaimanapun, potensi pariwisata Pacitan harus terus dipromosikan tidak hanya di level nasional, tetapi juga dunia internasional.
Pengakuan Unesco bahwa Goa Gong dan Pantai Klayar berpeluang menjadi taman wisata (Geo Park) kelas dunia bisa menjadi modal promosi untuk aset-aset wisata lain sekawasan.
Daerah yang berada di ujung barat pesisir selatan Jawa Timur ini, juga dikenal sebagai salah satu laboratorium geologi prasejarah terbesar di Indonesia. (*)
Berburu Foto Lanskap di Pantai Klayar
Jumat, 25 Oktober 2013 10:34 WIB
