Surabaya (Antara Jatim) - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menegaskan penutupan lokalisasi di Klakah Rejo, Kecamatan Benowo jalan terus berlanjut meski sempat diwarnai protes olah sejumlah warga setempat. "Saya pastikan penutupan akan jalan terus," ujar Tri Rismaharini di Surabaya, Senin. Menurut dia, ada beberapa alasan yang membuatnya dirinya getol melakukan penutupan sejumlah tempat prostitusi di Surabaya, salah satunya untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Surabaya yang tinggal di sekitar lokalisasi. Hal ini dikarenakan banyak anak-anak di Surabaya yang telah menjadi korban. "Saya tidak mau kejadian serupa kembali anak anak kita," tegasnya. Apalagi, kata dia, berdasarkan informasi yang ia terima telah terjadi praktik ekonomi yang tidak adil untuk para pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Klakah Rejo. "Saya tidak mau membicarakan masalah itu, karena masalah tersebut sifatnya rahasia," katanya. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya, Soepomo, memaklumi jika dalam penutupan yang dilakkan pada Minggu (25/8) ada pandangan berbeda dari sebagaan kecil dari warga. Menurutnya, sebagai Negara demokrasi, permasalahan tersebut merupakan hal yang biasa. "Ini adalah alam demokrasi, jadi wajar jika ada warga yang memiliki pandangan berbeda," kata Soepomo. Soepomo menegaskan, pada dasarnya semua warga Klakah Rejo, termasuk PSK dan mucikari sudah bersedia tempat prostitusi yang ada di sana ditutup. Tinggal sekarang kita menunggu kedatangan kementerian sosial (kemensos) menyerahkan tali asih kepada para PSK. "Saya pastikan, ratusan PSK serta 71 mucikari sudah sepakat lokalisasi tersebut ditutup," tegas Soepomo. Sedangkan untuk tali asih bagi mucikari, lanjutnya, alokasi anggaranya telah disediakan oleh Pemeritah Provinsi Jatim, malalui biro kesra. Senada dengan Soepomo, Camat Benowo, Edy Purnomo, memastikan bila mayoritas warga Klakah Rejo telah sepakat dengan penutupa lokalisasi. Menurutnya, warga yang menolak saat dilakukannya penutupan bukan merupakan warga asli Klakah Rejo. Apalagi sebelum penutupan dilakukan pihaknya telah melakukan sosialisasi selama dua minggu. Oleh karena itu, dirinya merasa kecolongan dengan kejadian tersebut sebab setelah penutupan pada Minggu (25/8) sekitar pukul 14.20 WIB kondisinya tetap kondusif. Baru pada jam tiga atau bertepatan banyak warga dari luar yang datang, sedikit kericuhan itu terjadi. "Saya pastikan, itu bukan dari lokalisasi Klakah tapi dari lokalisasi sebelah yaitu Sememi," katanya. Ketua Komisi D Bidang Kesra DPRD Surabya, Baktiono meminta agar pemerintah kota mengantisipasi timbulnya tempat lokalisasi baru pascadilakukanya penutupan di beberapa tempat prostitus di Surabaya, seperti kos-kosan. "Sebenarnya, kalau ditutup seperti ini justru akan sulit dipantau," tegas Baktiono. Baktiono menyatakan, melihat beberapa penutupan lokalisasi di Surabaya, dirinya melihat pemerintah kota sebenarnya belum siap melakukan penutupan. Hal itu, bisa dilihat dari pemberian tali asih yang hampir selalu diwarnai protes, seperti pemberian tali asih di Tambak Asri, yang hingga kini masih belum jelas. (*)
Berita Terkait
Ketua PP Fatayat NU: Perempuan muslim harus jadi arsitek perubahan
8 Februari 2026 12:54
Seskab Teddy nobar final Timnas Futsal bersama warga di Malang
8 Februari 2026 08:59
Yel-yel "Prabowo Dua Periode" menggema di kantor Gerindra Surabaya
7 Februari 2026 17:17
PPP Jatim tolak SK DPP soal penunjukan Plt Ketua DPW
7 Februari 2026 17:12
Prabowo hadiri acara pengukuhan pengurus MUI di Istiqlal
7 Februari 2026 11:07
