Surabaya (ANTARA) - Di sejumlah sudut Kota Surabaya, Jawa Timur, tumpukan sampah berupa kantong plastik bercampur sisa makanan menumpuk, sebagian lainnya tercecer ke jalan, masih menjadi pemandangan yang sulit dihindari.

Di tengah situasi tersebut, Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS) hadir dengan pendekatan berbeda. Bagi lembaga ini, sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan sistem yang tepat.

Bank Sampah Induk Surabaya mengembangkan pengelolaan sampah berbasis sistem perbankan dengan mengubah limbah menjadi nilai ekonomi, sekaligus mendorong edukasi masyarakat untuk mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan. 

BSIS berawal dari Bank Sampah Unit Bina Mandiri yang didirikan Anindita Normaria Samsul pada 2010 dengan kegiatan sederhana di tingkat rukun tetangga, yang kemudian berkembang menjadi Bank Sampah Induk Surabaya pada 2016.

BSIS kemudian bertransformasi menjadi badan hukum yayasan pada 2017 dengan nama Yayasan Bina Bhakti Lingkungan, hingga pada 2023 resmi menjadi Koperasi Jasa Bank Sampah Induk Surabaya yang kini beroperasi di Jalan Menur No. 31A Surabaya.

Manajer Pemasaran BSIS Rizana Hasna Yusuf menjelaskan, pendirian bank sampah ini dilatarbelakangi dua persoalan utama yang saling berkaitan yakni keinginan untuk mengurangi timbulan sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA).

"Kedua kita ingin membantu perekonomian masyarakat kelas menengah ke bawah,” kata Rizana, kepada ANTARA.

Konsep yang diusung BSIS mengadopsi sistem perbankan, di mana masyarakat berperan sebagai nasabah yang menabung, tetapi menggunakan sampah sebagai alat transaksi. Sampah yang telah dipilah ditimbang, dicatat, dan dikonversi menjadi saldo yang bisa dicairkan.

Berbeda dengan pengepul konvensional, BSIS menerapkan pemilahan secara mendetail hingga jenis dan karakter material, serta memastikan setiap sampah masuk ke rantai daur ulang yang jelas.

Nilai ekonominya ditentukan berdasarkan harga pasar dan kebutuhan industri, sehingga sampah yang terkumpul tidak dijual bebas, melainkan langsung disalurkan ke pabrik pengolahan agar proses daur ulang tetap terjaga.

“Vendor itu harus jelas, nanti akan diolah menjadi apa dan akhirnya jadi apa. Jadi memang ini daur ulang,” ujarnya.
 

Suasana bagian depan Bank Sampah Induk Surabaya yang menjadi pusat pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Pahlawan, Jawa Timur. (ANTARA/Widya Chandrawati)


Untuk menjadi nasabah, masyarakat cukup datang membawa sampah terpilah atau menggunakan layanan penjemputan.

Sampah kemudian ditimbang, dicatat dalam nota, dan diproses di bagian teller layaknya transaksi perbankan. Layanan BSIS dibuka setiap Senin hingga Sabtu pukul 08.00–15.00 WIB, sehingga masyarakat dapat menyesuaikan waktu setoran dengan aktivitas harian mereka. 

Meski nilai yang diperoleh tidak selalu besar, tetapi bagi sebagian warga, terutama kelompok berpenghasilan rendah, sistem ini memberikan manfaat. Bahkan, tidak sedikit nasabah yang tetap menabung meski hasilnya hanya dalam jumlah kecil.

“Kadang-kadang dapatnya seribu, dua ribu tapi mereka tabung,” kata Rizana.

 

Nilai ekonomi sampah

Warga satu per satu mendatangi lokasi BSIS dengan membawa sampah yang sudah dipilah rapi. Ada yang datang naik sepeda, ada juga yang berjalan kaki sambil menenteng kantong plastik berisi botol dan kertas.

Tidak sedikit yang sampah yang dibawa warga tersebut sudah dicuci, bahkan dikeringkan lebih dulu. Nilai yang didapat memang tidak seberapa, tapi mereka tetap datang dan menabung.

Upaya itu yang justru terasa besar. Rizana mengaku momen-momen seperti itu yang paling berkesan baginya, karena dari situ terlihat bahwa kesadaran masyarakat mulai tumbuh, utamanya terkait pengelolaan sampah dari rumah.

Salah satu nasabah BSIS, Suparti (56), menjadi contoh bagaimana kebiasaan kecil bisa berdampak. Perempuan yang sehari-hari menjalankan toko kelontong itu rutin mengumpulkan botol plastik dan kardus dari usahanya untuk disetor ke bank sampah.

“Daripada numpuk di rumah, mending dikumpulkan ke sini. Bisa jadi uang juga, tapi yang penting sampahnya jadi lebih berguna,” kata Suparti, yang menjadi nasabah BSIS selama satu tahun terakhir.

Bagi Suparti, nilai yang diperoleh bukan satu-satunya alasan. Ia melihat menyetor sampah sebagai cara sederhana untuk mengurangi limbah dari aktivitas sehari-hari, sekaligus memastikan sampah tersebut tidak berakhir sia-sia.
 

Seorang nasabah membawa tumpukan kardus untuk disetorkan di area penyetoran Bank Sampah Induk Surabaya, Jawa Timur. (ANTARA/Widya Chandrawati)


Selain layanan penukaran sampah, BSIS juga mengembangkan berbagai program seperti Bankeling untuk penjemputan sampah, Kain-Ku untuk pengolahan limbah tekstil, serta layanan pemusnahan dokumen dan label kemasan bagi kebutuhan industri.

Di sisi lain, edukasi menjadi bagian penting dari operasional BSIS. Program ini menyasar berbagai kelompok masyarakat dengan pendekatan praktik langsung agar pemahaman tentang pengelolaan sampah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Rizana, perubahan perilaku masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan imbauan, tetapi harus melalui contoh nyata dan pembiasaan.

“Kalau teguran sudah tidak terlalu efektif, jadi lebih baik kita contohkan dulu atau kita edukasi langsung,” katanya.

Dari sisi operasional, BSIS mampu mengelola sekitar 50 hingga 60 ton sampah setiap bulan yang berasal dari ribuan nasabah perorangan, bank sampah unit, sekolah, hingga perusahaan.

Volume tersebut menunjukkan bahwa sebagian sampah yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan kini dapat dimanfaatkan kembali.

Keberadaan BSIS juga mulai berdampak pada berkurangnya penumpukan sampah di tingkat tempat penampungan sementara. Namun, kebiasaan membuang sampah sembarangan masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.

Melalui penguatan layanan dan edukasi, BSIS berupaya membangun kesadaran bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan bagian dari sistem yang jika dikelola dengan benar dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.

 

 

*) Widya Chandrawati adalah mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang melaksanakan Magang Magenta di Perum LKBN ANTARA Biro Jawa Timur



Pewarta: Widya Chandrawati *)
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026