Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,02 persen pada April 2026 dibandingkan Maret 2026 (month-to-month/mtm), karena naiknya harga avtur serta harga pangan seperti tahu mentah, tempe, beras, tomat, hingga nasi dengan lauk.

"Pada April terdapat beragam catatan peristiwa seperti lonjakan harga energi dan dinamika komoditas global sehingga memicu inflasi di Jawa Timur," kata Statisti Ahli Madya BPS Jawa Timur Debora Sulistya Rini dalam konferensi pers di Surabaya, Jawa Timur, Senin.

Debora mengatakan inflasi di Jatim bulan lalu dilatarbelakangi oleh beberapa faktor seperti terjadinya kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex serta lonjakan harga avtur akibat kenaikan harga minyak dunia memicu peningkatan biaya transportasi, tiket pesawat, dan logistik.

Selain itu, melemahnya nilai rupiah dan gangguan pasokan global mendorong kenaikan bahan baku impor seperti kedelai, bahan baku plastik, serta komponen elektronik (chipset), sehingga berdampak pada harga produk pangan olahan, kemasan, dan barang elektronik.

Kemudian, juga adanya dinamika harga komoditas global yakni harga crude palm oil (CPO) yang naik akibat faktor permintaan untuk kebutuhan biodiesel dan potensi risiko El Nino turut menyebabkan harga naik beberapa komoditas seperti minyak goreng.

Secara rinci, untuk angkutan udara mengalami inflasi 18,38 persen dengan andil 0,23 persen, minyak goreng inflasi 4,12 persen dengan andil 0,05 persen, nasi dengan lauk inflasi 1,39 persen dengan andil 0,03 persen, laptop/notebook inflasi 3,15 persen dengan andil 0,03 persen, dan tomat inflasi 11,31 persen dengan andil 0,02 persen.

Berikutnya, tahu mentah mengalami inflasi 2,54 persen dengan andil 0,02 persen, telepon seluler inflasi 1,63 persen dengan andil 0,01 persen, tempe inflasi 2,26 persen dengan andil 0,01 persen, beras inflasi 0,28 persen dengan andil 0,01 persen, dan bensin inflasi 0,25 persen dengan andil 0,01 persen.

Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang mengalami deflasi seperti daging ayam ras 10,45 persen, cabai rawit 27,36 persen, emas perhiasan 4,65 persen, dan telur ayam ras 7,85 persen karena terjadi normalisasi harga setelah Ramadhan.

"Setelah mengalami kenaikan selama periode Ramadhan dan Idul Fitri akibat tingginya permintaan, harga sejumlah bahan pangan mulai menunjukkan tren penurunan dan kembali ke tingkat yang lebih stabil," kata Debora.

Dengan terjadinya inflasi pada April maka inflasi tahun ke tahun (yoy) April 2026 terhadap April 2025 tercatat sebesar 2,85 persen, sedangkan inflasi tahun kalender yaitu April 2026 terhadap Desember 2025 yaitu 1,15 persen.

Dari 11 kabupaten/kota di Jawa Timur terdapat dua daerah yang mengalami inflasi yaitu Surabaya 0,37 persen dan Kota Malang 0,05 persen sedangkan sembilan lainnya mengalami deflasi dengan terdalam terjadi di Kota Probolinggo yakni 0,65 persen.

Sementara daerah lain yaitu Jember deflasi 0,44 persen, Gresik 0,4 persen, Sumenep 0,4 persen, Bojonegoro 0,35 persen, Banyuwangi 0,28 persen, Tulungagung 0,18 persen, Kediri 0,12 persen, dan Madiun 0,02 persen.


 

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026