Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menyiapkan langkah untuk menekan lonjakan harga cabai rawit di pasar menjelang Ramadhan di wilayah setempat, salah satunya dengan melakukan reaktivasi Warung Tekan Inflasi (WTI).
"Kami akan berdiskusi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk membuka kembali Warung Tekan Inflasi di pasar supaya harganya kembali normal," kata Wali Kota Malang Wahyu Hidayat di Kota Malang, Jawa Timur, Jumat.
Wahyu menyatakan lonjakan drastis harga cabai rawit di wilayah setempat turut mengundang sorotan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Dia mengemukakan dari hasil pantauan di lapangan, salah satunya di Pasar Oro-Oro Dowo harga cabai rawit mencapai Rp90 ribu per kilogram.
Sementara berdasarkan data laman siskaperbapo.jatimprov.go.id, pada Kamis (12/2) harga cabai rawit masih di kisaran harga Rp76 ribu per kilogram. Dalam laman tersebut dalam kurun waktu empat hari harga cabai rawit meningkat signifikan.
Pada Selasa (10/2), rata-rata harga cabai rawit di seluruh pasar di Kota Malang Rp70.333 per kilogram. Kemudian, pada Rabu (11/2) rata-rata harga komoditas tersebut naik 2,37 persen atau menjadi Rp72 ribu per kilogram.
Lalu, pada Kamis (12/2) harga cabai rawit kembali naik sebesar 5,79 persen atau menjadi Rp76.166 per kilogram dan pada hari ini kembali naik 1,09 persen atau menjadi Rp77 ribu per kilogram.
Wahyu menjelaskan peningkatan harga cabai rawit salah satunya dikarenakan faktor ketersediaan yang belum bisa memenuhi tingginya permintaan kebutuhan masyarakat menjelang momen Ramadhan.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, pada Periode Januari 2026 wilayah setempat mengalami deflasi secara month to month (mtm) sebesar 0,10 persen.
Salah satu komoditas utama yang mendorong terjadinya deflasi di periode itu adalah penurunan harga cabai rawit sebesar 23,85 persen dengan andil 0,07 persen. Faktornya karena peningkatan produksi imbas panen raya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, kata dia, akan menguatkan rencana reaktivasi Warung Tekan Inflasi dengan menggenjot kerja sama antara daerah (KAD) bersama wilayah penghasil cabai rawit, seperti Kabupaten Malang, Lumajang, Jember, dan Probolinggo.
"Supaya kami bisa mendapatkan harga yang murah, mudah-mudahan harga cabai rawit nanti sudah bisa melandai sebelum memasuki Ramadhan sehingga tidak memberatkan masyarakat. Karena memang drastis (peningkatannya)," ujarnya.
Sembari mempersiapkan diaktifkannya kembali Warung Tekan Inflasi, Pemkot Malang telah menjadwalkan menyelenggarakan Gerakan Pangan Murah (GPM) di 20 titik lokasi secara bergantian.
GPM yang bekerja sama di antaranya dengan Perum Bulog, ID FOOD, hingga Perusahaan Umum Daerah Tugu Tirta telah dimulai di wilayah Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang.
