Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Dinas Perikanan Kabupaten Malang berupaya meningkatkan nilai dari potensi garam di Pantai Modangan dengan mengusulkan pelaksanaan hilirisasi ke pemerintah pusat.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Victor Sembiring di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu, mengatakan saat tengah melobi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendapatkan kucuran anggaran.
"Sekarang kami masih melakukan lobi ke KKP untuk anggarannya supaya garam ini bisa jadi final product, karena kalau garam sudah diolah (harga) akan lebih mahal, jadi petani bisa lebih sejahtera. Iya (sementara di Modangan) karena produksinya besar," kata Victor.
Victor menyampaikan dengan adanya hilirisasi, nantinya dimungkinkan akan ada pabrik berskala kecil untuk menampung dan mengolah hasil panen petambak garam menjadi garam konsumsi maupun produk yang ditujukan sebagai bahan baku industri pengolahan makanan minuman.
"Untuk permintaan bagus, karena kualitasnya garam dari Modangan bagus juga," ucapnya.
Produk garam tunnel dari Pantai Modangan masih dalam bentuk garam krosok yang dihasilkan melalui metode itu dan mampu menghasilkan tiga hingga empat ton untuk sekali panen, dengan harga jual berkisar di angka Rp2 ribu sampai Rp2.500 per kilogram.
Masa panen garam dengan metode tunnel ini berlangsung setiap 20 hari sekali dari hasil memanfaatkan 40 tunnel yang sudah ada.
Konsumen garam krosok dari Pantai Modangan sejauh ini masih mencakup skala lokal dari beberapa daerah di sekitar Kabupaten Malang, seperti Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung.
Selain di Pantai Modangan, daerah lain di Kabupaten Malang yang menjadi penghasil garam dengan memanfaatkan sistem tunnel, salah satunya terletak di Desa Sidoasri.
Namun, di desa tersebut hasil produksinya masih berkisar di angka empat kuintal sampai lima kuintal per sekali panen.
"Sidoasri lebih sedikit karena angin sama panasnya masih lebih bagus di Modangan sehingga prosesnya lebih cepat," ucapnya.
Pemkab Malang melalui Dinas Perikanan berkomitmen terus melakukan pendampingan dan pemantauan dengan menggandeng Universitas Brawijaya Malang.
