Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, Jawa Timur (Jatim) melakukan penguatan data guna meningkatkan keakuratan program pengentasan kemiskinan.
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos DP3APKB) Kota Malang Donny Sandito di Kota Malang, Rabu, mengatakan ketepatan data akan menggambarkan kondisi riil tentang potret kemiskinan di daerah setempat.
"Program pengentasan kemiskinan agar bisa menyasar warga yang membutuhkan sangat membutuhkan data akurat," kata Donny.
Data yang dilakukan penguatan, yakni Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang digunakan oleh pemerintah pusat sebagai dasar memberikan bantuan kepada penerima manfaat.
Pihaknya juga akan mengintegrasikan DTSEN dengan data diaplikasi Pendataan Kesejahteraan Sosial Kota Malang atau PDKT SAM yang dimiliki oleh pemerintah daerah setempat.
Ketika data bisa akurat, pemberian intervensi mampu lebih tepat sasaran kepada para penerima manfaat, termasuk dimanfaatkan oleh lintas perangkat daerah (PD) dalam menjalankan program bantuan.
Dinsos DP3APKB Kota Malang memastikan membuka ruang kolaborasi yang luas dalam pemanfaatan dan sinkronisasi data dalam rangka menyelesaikan persoalan kemiskinan.
"Misalnya, kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, yang membutuhkan data kemiskinan untuk keperluan penerimaan murid baru hingga penyaluran beasiswa," ujar dia.
Berdasarkan catatan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang, apabila mengacu pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Malang yang disusun untuk dijalankan periode 2025-2029, penurunan kemiskinan ditargetkan turun secara bertahap.
Pada periode 2025, angka pendudukan miskin tercatat 34 ribu jiwa atau 3,85 persen dari sebelumnya 3,91 persen pada 2024.
Kemudian, pada periode 2026, angka kemiskinan di Kota Malang dipatok mampu menyentuh angka 3,63 persen. Sedangkan pada 2027, angka kemiskinan Kota Malang bisa berada di angka 3,52 persen, lalu 2028 menjadi 3,43 persen, dan 2029 mampu menyentuh persentase sebesar 3,25 persen.
Pewarta: Ananto PradanaEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026