Surabaya (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendukung percepatan dekarbonisasi sektor industri melalui pemanfaatan energi surya sebagai bagian dari target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Kepala Bidang Pemberdayaan Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur Arif Khamzah mengatakan industri masih menjadi penggerak ekonomi sekaligus penyumbang emisi nasional.
"Industri memberikan kontribusi 18,9 persen terhadap PDB nasional serta menyerap 19,3 juta tenaga kerja, tetapi juga menyumbang 34 persen emisi karbon dalam negeri," kata Arif saat kegiatan diskusi media bertajuk “Dekarbonisasi Industri Menuju Net Zero Emissions 2060” di Surabaya, Kamis.
Ia menjelaskan, 36 persen emisi industri bersumber dari sembilan subsektor intensif energi dan material, seperti semen, besi-baja, tekstil, kimia, serta makanan-minuman.
Pemerintah daerah, kata dia, mendorong penerapan industri hijau melalui efisiensi sumber daya, pemanfaatan energi bersih, dan pengembangan ekonomi sirkular.
Arif menuturkan langkah program dekarbonisasi tersebut, selaras dengan visi pembangunan Jawa Timur yang berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, pemprov membentuk Forum Industri Hijau Jawa Timur yang berfungsi memperkuat pendampingan, sertifikasi, dan kemitraan lintas sektor.
“Kolaborasi menjadi kunci percepatan industri hijau karena transisi tidak bisa dilakukan sendiri oleh pelaku industri,” ujarnya.
Sementara itu, Chief Sales Officer SUN Energy Oky Gunawan menegaskan industri memiliki peran ganda sebagai pendorong ekonomi sekaligus kontributor emisi.
Menurut dia, dekarbonisasi menjadi langkah strategis agar pertumbuhan industri tetap terjaga sambil menekan dampak lingkungan.
Ia menyebut penerapan energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga surya, menjadi solusi yang paling siap diadopsi industri.
Oky mencatat, potensi teknis energi surya Indonesia mencapai 3.000–20.000 GWp, sehingga mampu memenuhi kebutuhan listrik nasional tanpa bergantung pada batu bara.
“Sebanyak 34 persen konsumsi listrik nasional berasal dari kawasan industri dan hampir 80 persen perusahaan multinasional di Indonesia meminta akses energi bersih,” ujarnya.
Ia menambahkan, SUN Energy selama satu dekade operasional telah membangun 40 lokasi PLTS dengan kapasitas sekitar 40 MWp di Jawa Timur.
“Dekarbonisasi sering dianggap mahal. Kami hadir untuk memastikan industri di Jawa Timur dapat mencapai status industri hijau secara bertahap dan terukur,” ujarnya.
