Surabaya (ANTARA) - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur Cahyo Harjo Prakoso mengajak semua pihak untuk menjaga lingkungan sekolah aman dan menekan terjadinya perundungan siswa.
"Ini harus menjadi komitmen bersama agar satuan pendidikan bebas dari kekerasan, perundungan, bullying, apapun bentuknya baik verbal maupun verbal," kata Cahyo usai melakukan reses di RW 04 Sidotopo Kulon, Surabaya, Kamis.
Pihaknya harap hal ini tidak ada lagi di dalam lingkungan maupun ekosistem pendidikan yang ada.
Menurutnya, keluarga menjadi tempat utama dalam membentuk karakter anak, sehingga ketika berada di luar tidak menjadi pelaku perundungan.
Cahyo menjelaskan bahwa Jawa Timur telah memiliki dasar hukum yang jelas untuk mencegah dan menangani kekerasan di sekolah, mulai dari Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 hingga Peraturan Daerah tentang penyelenggaraan pendidikan.
Regulasi tersebut mengamanahkan pembentukan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPK) di setiap satuan pendidikan.
Dinas Pendidikan Jawa Timur mencatat hingga 2025 lebih dari 1.950 SMA/SMK negeri dan swasta telah membentuk TPK.
Dirinya juga menegaskan akan melakukan penelusuran terkait warga Sidotopo yang menjadi korban perundungan hingga harus pindah sekolah.
"Ini sangat merugikan baik tumbuh kembang kognitif dari anak-anak itu sendiri maupun juga menjadi problem ekonomi. Kami akan menindaklanjutinya," ujar Ketua Partai Gerindra Surabaya ini.
Sementara itu, dalam reses ini Cahyo menerima sejumlah aspirasi masyarakat mulai dari perbaikan fasilitas Balai RW yang biasa dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan anak usia dini hingga permintaan perbaikan fasilitas umum.
Pada kesempatan ini, Cahyo memberikan sumbangan berupa dua pendingin ruangan dan 50 meja untuk kegiatan belajar mengajar anak-anak.
