Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh kepala daerah yang ada di wilayah tersebut untuk menjaga iklim investasi yang inklusif, berkelanjutan, aman dan bebas premanisme.
"Intinya yang kita tanda tangani itu bagaimana menjaga iklim investasi di Jawa Timur inklusif dan berkelanjutan. Kemudian investasi ini aman dan bebas premanisme. Kepastian dan kenyamanan investor harus menjadi prioritas bersama," ujar Khofifah dalam keterangan diterima di Surabaya, Rabu.
Menurut Khofifah, iklim investasi yang kondusif menjadi kunci menarik minat investor domestik maupun asing untuk menanamkan modal di Jawa Timur. Oleh karena itu, komitmen bersama yang telah dibangun harus ditindaklanjuti oleh semua pemangku kepentingan.
Khofifah juga menyampaikan sejumlah strategi peningkatan investasi, antara lain percepatan penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) kabupaten/kota dan pengembangan infrastruktur industri.
Selain strategi lain itu juga termasuk program pelatihan tenaga kerja “Skill Match 100k”, dashboard debottlenecking, percepatan peraturan gubernur insentif penanaman modal, hingga promosi berbasis platform digital, WebGIS.
“Hal tersebut akan memberikan dampak pada kepastian lokasi investasi, biaya logistik turun, pengangguran berkurang, produktivitas naik, serta meningkatkan kepercayaan investor,” katanya.
Pemprov Jatim juga mempermudah fasilitas pendukung investasi, seperti pasokan energi, penyediaan lahan, panduan pelaporan kegiatan, fasilitasi ketenagakerjaan, kemudahan perizinan, dan penyediaan data peluang investasi.
“Menyiapkan karpet merah untuk investor dalam dan luar negeri itu penting,” kata Khofifah.
Upaya lainnya dilakukan melalui penyusunan Investment Project Ready to Offered (IPRO), kurasi proyek hilirisasi, membangun kemitraan, percepatan perizinan, hingga promosi investasi.
Saat ini, IPRO Jawa Timur mencakup sektor manufaktur, infrastruktur, pariwisata, agrikultur, kawasan industri, hingga layanan kesehatan.
"Jawa Timur siap menjadi pusat pertumbuhan industri berbasis nilai tambah, khususnya di sektor agribisnis, pertambangan, dan manufaktur," ujarnya.
Khofifah juga menegaskan posisi strategis Jatim sebagai Center of Gravity ekonomi nasional, dengan dukungan 21 rute Tol Laut, tujuh bandara, 37 pelabuhan, 12 ruas tol, 12 kawasan industri, dua kawasan ekonomi khusus (KEK), dan satu kawasan industri halal.
"Hampir 80 persen logistik di 19 provinsi Indonesia Timur dikirim dari Jawa Timur melalui Tanjung Perak," katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB ADHB) Jatim Triwulan I 2025 mencapai Rp819,3 triliun.
Nilai tersebut, menyumbang 14,42 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan 25,11 persen terhadap PDRB Pulau Jawa, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen secara Year on Year (YoY), yang lebih tinggi dari nasional.
Khofifah juga mengapresiasi Bank Indonesia Jawa Timur yang telah mendukung peningkatan dan promosi investasi di tingkat nasional dan internasional.
"Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur," ucapnya.
Kepala Perwakilan BI Jawa Timur Ibrahim menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jatim harus terus dikelola dan dijaga dengan prinsip konsistensi, inovasi, dan sinergi (KIS).
"Jadi KIS ini menjadi kata kunci bagaimana kita bisa saling mendukung untuk iklim investasi yang kondusif di Jawa Timur," katanya.
