Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Kopi robusta dan arabica di Desa Senduro yang berada di kaki Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur memiliki cita rasa berkualitas, sehingga memiliki nilai tawar tinggi di pasaran.

"Kopi dari Senduro tetap punya posisi kuat di pasar karena kualitasnya yang unggul, terutama arabika petik merah yang harganya bisa menembus Rp90.000 per kilogram," kata Kepala Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang Mamik Woroarjiati dalam keterangan tertulis yang diterima Selasa.

Menurutnya ada penurunan harga kopi di pasaran, namun pihaknya menekankan pentingnya menjaga standar mutu karena kopi yang dipetik merah sempurna punya rasa yang kompleks dan aroma yang menggugah, sehingga hal itu yang dihargai pasar.

Kini, tantangan bagi para petani bukan hanya soal cuaca dan harga, tapi juga regenerasi karena banyak anak muda desa memilih pergi ke kota.

Namun, sebagian mulai kembali ke desa karena didorong oleh tren kopi kekinian yang membuat profesi petani tak lagi dianggap orang desa.

Sebagian petani muda di Senduro bahkan sudah belajar membuat produk turunan seperti kopi bubuk kemasan, drip bag, hingga cold brew yang menjualnya lewat media sosial, merambah pasar luar daerah, dan menjadikan kopi sebagai identitas kreatif anak muda desa.

Pemerintah desa dan komunitas melihat peluang itu, sehingga mulai mengembangkan konsep wisata edukasi kopi dengan mengajak wisatawan memetik kopi langsung di kebun, belajar proses roasting, hingga menyeduh kopi sambil menikmati pemandangan Gunung Semeru yang megah.

Salah seorang petani kopi di Desa Senduro, Rohman mengaku sudah menanam kopi sejak usia remaja karena baginya, kopi bukan sekadar hasil tani, tetapi bagian dari hidupnya.

"Kalau petik merah, rasanya beda. Wangi lebih kuat, pahitnya halus. Tapi ya itu, harganya sekarang agak turun. Saat ini harga kopi robusta petik merah hanya sekitar Rp70.000 per kilogram, turun dari Rp85.000 musim lalu," katanya.

Sementara itu, robusta biasa yang tidak dipetik selektif hanya dihargai sekitar Rp60.000 per kilogram dan harga yang tentu belum cukup ideal, terutama bagi petani yang mengandalkan hasil panen untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan dapur sehari-hari.



Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Vicki Febrianto

COPYRIGHT © ANTARA 2026