Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang mengintegrasikan teknologi pada sektor pertanian agar naik kelas, yang bertujuan mendorong modernisasi pertanian agar bergerak ke fase substantif guna meningkatkan kesejahteraan petani.
"Modernisasi tidak boleh berhenti pada distribusi alat, tetapi harus memastikan perubahan nyata pada sistem produksi dan peningkatan kesejahteraan petani," kata Bupati Lumajang Indah Amperawati saat menyerahkan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada Brigade Pangan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin.
Penyerahan dua unit combine harvester dan satu unit drone pertanian kepada Brigade Pangan, menurutnya, menjadi sinyal bahwa transformasi yang didorong bukan bersifat parsial, tetapi menyasar efisiensi hulu hingga hilir.
Dalam kerangka itu, lanjutnya, teknologi ditempatkan sebagai pengungkit produktivitas sekaligus pengendali biaya.
Ia menambahkan, modernisasi harus mampu menjawab persoalan klasik pertanian yaitu tingginya kehilangan hasil, rendahnya efisiensi tenaga kerja, serta ketergantungan pada pola budidaya konvensional yang tidak lagi adaptif terhadap perubahan iklim dan dinamika pasar.
Ia mengatakan penggunaan combine harvester tidak hanya mempercepat panen, tetapi menekan post-harvest loss yang selama ini menjadi “kebocoran tersembunyi” dalam rantai produksi.
Menurutnya, peningkatan produksi tidak selalu harus berasal dari perluasan lahan, tetapi dari optimalisasi hasil yang sudah ada.
Sementara itu, penggunaan drone pertanian menghadirkan pendekatan baru berbasis presisi, seperti penggunaan pupuk dan pestisida yang tidak lagi seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi spesifik lahan.
Menurutnya, hal itu bukan hanya terkait efisiensi biaya, tetapi juga langkah strategis menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Namun, kata dia, modernisasi berbasis teknologi membutuhkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Menurutnya, tanpa literasi teknologi yang memadai, alsintan berpotensi menjadi aset pasif yang tidak memberi nilai tambah.
"Yang kami bangun bukan sekadar alat, tetapi ekosistem, mulai dari SDM, kelembagaan, hingga tata kelola agar teknologi benar-benar memberikan dampak ekonomi," katanya.
Ia menambahkan, modernisasi bukan hanya berkaitan dengan peningkatan hasil panen, tetapi menjaga stabilitas ekonomi, menekan inflasi pangan, dan memperkuat ketahanan daerah terhadap gejolak eksternal.
"Keberhasilan modernisasi tidak diukur dari jumlah alsintan yang disalurkan, tetapi dari sejauh mana sistem produksi benar-benar berubah lebih efisien, lebih adaptif, dan lebih berkelanjutan," ujarnya.
