Surabaya - Sebagian besar para pejabat di negeri ini suka menghadiri undangan buka bersama dari rekanan atau pemilik perusahaan yang selama ini menjadi mitra kerjanya. Tujuan dari buka bersama itu tidak lain selain mempererat silaturahim juga memperkuat hubungan kerja sama di antara kedua belah pihak. Namun hal itu tidak berlaku bagi Risma panggilan dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ini. Selama ini, Risma sering menolak undangan buka bersama dari perusahaan atau intansi apapun. Bahkan hampir setiap hari ada undangan buka bersama. "Karena banyak sekali yang ngundang dan daripada saya tidak adil lebih baik saya tidak menghadirinya," kata Risma saat silaturahim dan buka bersama di kantor Perum LKBN Antara Biro Jatim beberapa waktu lalu. Risma mengaku lebih suka membuat acara sendiri dengan cara mengundang warga untuk berbuka puasa di kediaman rumah dinasnya di Jalan Jimerto. Bahkan selama bulan Ramadhan kali ini, pihaknya juga mengundang para mucikari dan pekerja seks komersial (PSK). Dalam tiga hari berturut-turut mulai 3-5 Agustus, wali kota mengundang mucikari lokalisasi di seluruh Surabaya dalam momen berbuka puasa bersama. Untuk 3 Agustus, berbuka puasa diikuti 350 mucikari Jarak dan Dolly, kemudian 4 Agustus diikuti 350 mucikari dari Moroseneng dan Bangunsari, dan 5 Agustus mengundang mucikari Tambakasri. Bersamaan dengan momen bulan Ramadhan ini, Risma terang-terangan mengajak agar para mucikari dan PSK berganti profesi. Awalnya ia mengatakan takut sebagai pemimpin Surabaya yang nantinya akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya setelah mati nanti. "Apakah saya dapat membawa masyarakat Surabaya ini seperti yang diperintahkan Tuhan Yang Maha Kuasa," katanya. Mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Pemkot Surabaya ini terang-terangan mengajak agar para mucikari dan PSK keluar dari lokalisasi. Menurut dia, imbauan ini dilakukan karena ia tidak mau melakukan penutupan secara paksa. Sebetulnya sudah ada Perda Nomor 7 tahun 1999 tentang Larangan Penggunaan Bangunan atau tempat untuk tindakan asusila. "Namun saya tak mau menutup, saya mau membuka hati mereka," katanya. Risma terus mengingatkan agar meninggalkan profesi sebagai sebagai mucikari atau PSK untuk beralih ke wiraswasta atau sebagainya. Ia menjelaskan jika Surabaya memiliki program-program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program ketrampilan itu ada yang untuk ibu atau bapak, misalnya di Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas KB). Di SKPD itu ada program pelatihan memasak, menjahit, membuat kerajinan. "Pemasarannya nanti saya sendiri yang akan membantu," jelasnya. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026