Malang - Harga telur ayam ras yang sempat melonjak hingga Rp19 ribu per kilogram pada Juli lalu menjadi pemicu utama terjadinya inflasi di Kota Malang yang mencapai 0,48 persen.
Menurut Kasi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang Erny Fatma Setyorini, Selasa, inflasi Juli sebesar 0,48 persen itu lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,54 persen.
"Selain harga telur ayam ras, kenaikan harga daging ayam ras yang menembus angka Rp27 ribu per kilogram pada Juli lalu juga menjadi salah satu pemicu utama terjadi inflasi di kota ini," ujarnya.
Ia mengatakan, melambungnya harga ayam potong tersebut dipicu oleh naiknya harga pakan ternak, sehingga kedua komoditas tersebut menjadi pemicu utama terjadinya inflasi di daerah ini.
Meski harganya mahal, lanjutnya, stok kedua komoditas tersebut masih mencukupi, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan kekurangan telur mapun ayam potong, apalagi sampai terjadi kelangkaan.
Beberapa bahan pangan lainnya yang ikut berperan terjadinya inflasi di Kota Malang adalah kenaikan harga bawang putih, tempe, gula pasir, apel, pisang, rokok kretek filter, daging sapi serta angkutan udara.
Ia menilai, inflasi Kota Malang sebesar 0,48 persen itu masih wajar dan tidak menimbulkan gejolak yang serius. Apalagi, inflasi Kota Malang ini yang paling rendah diantara tujuh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jatim.
Selain ada beberapa komoditas yang memicu inflasi, katanya, beberapa komoditas juga ada yang memicu deflasi, yakni cabai merah, bawang merah, wortel, kelapa, emas perhiasan, serta udang basah.
"Sementara laju inflasi tahun kalender (Januari-Juli) 2012 sebesar 1,81 persen. Sedangkan year on year (Juli 2012 terhadap Juli 2011) sebesar 4,16 persen," katanya.(*)
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.