Oleh Fiqih Arfani (Surabaya) - Seorang pria yang usianya sudah tidak lagi muda tertidur pulas di sudut Masjid At-taufiq, kompleks Gedung THR (Taman Hiburan Rakyat) Surabaya, Jalan Kusuma Bangsa, suatu siang. Dua buku bacaan yang sudah usang dipakainya alas kepala. Kacamata baca berada persis di sampingnya. Meski sudah beralas "bantal", namun siku tangan kanannya juga dijadikan alas kepala. Meski banyak lalu lalang orang yang ke masjid pada siang itu, namun derap langkahnya tak membangunkan pria tua itu. Begitu pulas, apalagi di Bulan Puasa, ditambah cuaca di luar sangat terik dan menyengat. Seperti sudah hafal waktu masuk shalat. Menjelang Asar, pria itu terbangun. Matanya masih sembab, duduk sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. "Alhamdulillah," ucapnya seraya mencari kaca mata yang disimpannya di samping dan dipakainya lagi. Matanya langsung memandang tembok dalam masjid melihat jam dinding. Ia berdiri dan masuk ke dalam gudang yang berada di sudut masjid bagian belakang mengambil kopiah kesayangannya. Suara azan berkumandang. Ia berhenti sejenak sambil mendengarkan merdunya bacaan panggilan mengajak umat Islam untuk beribadah. "Kebetulan, saat ini, saya tidak mengumandangkan azan, karena bergantian jadwalnya. Sekarang, giliran saya untuk membacakan pujian-pujian usai azan," tuturnya. "Allahumma Sholi' alaa Muhammad.. Ya Rabbi Shollih Alaihiwassalam..," begitu lantunan pujian dikumandangkannya. Meski dengan suara yang serak, namun semangatnya tidak kalah dengan yang berusia muda. Melihat jamaah sudah banyak, ia meneruskannya dengan Iqomah, pertanda Shalat Ashar segera dimulai. Pria tua itu namanya Sutohir. Dalam usianya seperti sekarang, tidak ada yang menyangka dia adalah salah satu legenda hidup Srimulat. Sebuah kelompok lawak Indonesia yang namanya tidak pernah padam dan terkenal se-Indonesia. Ya, namanya tidak setenar Tessy, seterkenal Tarzan, sebeken Asmuni, sepopuler Gogon dan Nunung, dan komedian-komedian Srimulat lainnya. Tidak banyak yang mengenal namanya memang, tapi jika wajahnya didandani atau di-make up, gigi ditambah taring, di sekitar mulut berlumur darah, dan kedua bola matanya merah. Siapa pun pasti tahu dengan sosok itu. Drakula sebutannya. Sebuah jenis hantu asal luar negeri yang khas dengan jas hitam besar pemangsa darah. Wajahnya yang menakutkan, membuat siapa saja pasti lari jika didekatinya, meski hanya drakula palsu. Itu peran dari Sutohir. Jika wajahnya tak di-make up, tidak ada yang mengenalnya, tapi jika sudah tampil dan berakting, siapa pun dijamin tidak akan bisa nyenyak tidur setelah didatangi dan dikejarnya. "Saya sudah sejak awal manggung Srimulat menjadi hantu. Sebelumdrakula, pernah saya menjadi hantu seperti Kuntilanak, Wewe Gombel, Pocong, Genduruwo, dan jenis hantu lokal lainnya," kata pria kelahiran Surabaya, 29 September 1946 tersebut. Pentas di Surabaya, Solo, Semarang, hingga Jakarta dijelajahinya. Bersama komedian lainnya, ia sukses membesarkan nama Srimulat mulai nol sampai menuju puncak, hingga kembali meredup seperti sekarang ini. Tidak hanya menjadi pemain, jabatan sekelas sutradara pernah disandangnya. Bahkan Cak Tohir, panggilan akrabnya, pernah berjibaku berandil besar membesarkan film nasional pada 1976-1978. "Sebelum diajak main, saya dulu pelukis banner ketika Srimulat hendak pentas. Karena latar belakang saya sebagai seniman teater, saya diajak manggung. Syukurlah, meski sebagai drakula dan berperan menakut-nakuti, saya menikmatinya dan bisa hidup sampai sekarang," tukas dia. Namun, judul atau lakon Srimulat tidak semuanya horor. Itu artinya, Cak Tohir harus "nganggur". Tapi semangatnya membesarkan Srimulat tidak perlu diragukan lagi. Apalagi sebagai warga Srimulat angkatan pertama, ia wajib membimbing "adik-adiknya". "Meski saya tidak sepopuler mereka, tapi saya bangga dengan prestasinya. Tidak sedikit yang masih eksis di dunia komedian sampai sekarang, seperti Tessy, Gogon, Tarzan, Eko Dj, bahkan Nunung yang setiap hari masih nongol di TV," ucapnya sembari menghela napas panjang. Penjaga Masjid Perjalanan waktu dan berputarnya roda kehidupan, membuat nasib dan kisah Cak Tohir berubah. Seiring redupnya Srimulat, para pemainnya pun hidup dengan peran-peran baru, ia kembali ke "habitatnya", yakni kota tercinta Surabaya. Dulu, ia hidup di dalam gedung Srimulat. Setiap hari waktunya dihabiskan di sana. Makan, tidur, aktifitas, bekerja, semua dicurahkannya untuk seni dan Srimulat. Semakin tenarnya Srimulat dan gedung lama tak cukup menampung penonton, dibangun gedung baru yang lebih besar. Gedung lama pun diubah menjadi masjid. Di masjid yang bentuk bangunannya masih mirip sebuah pendapa panggung pementasan itu, Cak Tohir menghabiskan banyak waktunya. Ia hanya meninggalkan masjid ketika mendapat "job" teater, baik di dalam maupun luar kota. "Syukurlah, meski saya hidup sendiri sekarang. Tapi Allah selalu menemani. Kadang saya dapat rezeki dari teater, karena itulah hidup saya," ujarnya. Bahkan, tahun 2012 ini, Cak Tohir sempat dipanggil empat kali ke Jakarta ikut pentas Srimulat syuting terbaru. Kebetulan, salah satu televisi swasta kembali mementaskan Srimulat untuk beberapa episode. "Saya tetap jadi drakula, sebab tidak ada lagi pemeran drakula di Srimulat. Sangat tidak disangka, Srimulat kembali memanggil saya dan ikut pentas," jelas pria yang turut andil membesarkan nama Nunung ke dunia hiburan tersebut. Selama tinggal di masjid, ia mengaku menemukan jati dirinya sebagai seorang pemain. Bukan pemain dalam panggung, melainkan pemain dalam kehidupan nyata. Selama 30 tahun berkiprah keliling kota menghibur penonton, Cak Tohir dikembalikan ke gedung yang melahirkannya. Meski gedung sudah berbeda, namun ia tetap merasakan kenyamanan dan kesejukan hidup disana. Tidak hanya tidur, ia juga merawat "Rumah Allah" dan tidak lupa membersihkan setiap waktunya. "Saya dulu tidurnya di panggung, sekarang juga masih tetap. Tapi sekarang di panggung Allah. Sangat nyaman rasanya bisa merawat dan menjaga masjid. Saatnya, kini mencari pahala dan ridho Allah SWT," tuturnya lirih. Sebelum tidur di masjid, ia sempat tidur di panggung Srimulat gedung baru. Namun adanya pelarangan tidur di dalam, membuatnya harus mencari tempat berlindung dari terik panas dan derasnya hujan. Di masjid inilah, ia mengaku menemukan dirinya yang asli. Selama jadi sutradara dan mengarahkan pemain, sekarang ia merasa menjadi seorang pemain yang diatur oleh "sang sutradara". "Siapa sutradara itu? Dialah Allah SWT. Sangat tenteram bisa menghabiskan waktu dan sisa hidup di jalan-Nya. Inilah skenario yang sudah ditulis-Nya untuk saya dan harus bisa saya memainkannya," tukasnya. Tak terasa, ia sampai menyeka air mata yang berlinang di pipinya. Sesekali kaca mata miliknya dibuka menahan matanya yang memerah. Namun, ia mengaku pasrah dan tawakal atau berserah diri pada Allah SWT tentang jalannya kehidupannya kini. "Sekarang yang penting, saya merasa menjadi pemain dalam kehidupan. Saya ikhlas dan pasrah dengan-Nya sebagai pemilik hidup jika diberi peran apa saja. Saya janji bermain peran itu sebaik-baiknya. Saya tidak percaya lagi dengan skenario yang saya buat, karena skenario itu sekarang sudah ditulis oleh-Nya," ucap Cak Tohir menambahkan. (*) (Foto: Just Alvin)
Berita Terkait
Tiga penerbangan ke Juanda dialihkan ke Semarang akibat angin kencang
8 Januari 2026 17:00
Bandara Juanda catat 158 ribu penumpang terlayani sejak awal periode Nataru
19 Desember 2025 19:38
Bandara Juanda kembali buka Posko Pelayanan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026
17 Desember 2025 20:09
Kemendagri minta Pemda ambil langkah konkret kendalikan inflasi
30 Juni 2025 21:02
Tito Karnavian melantik Sekretaris Jenderal dan Inspektur Jenderal Kemendagri
11 Februari 2025 12:40
Kemendagri minta pemda optimalkan panen untuk kendalikan harga pangan
23 Desember 2024 20:21
Erick: Dukung menteri gunakan kendaraan dinas buatan Pindad
29 Oktober 2024 11:43
Kemendagri minta pemda perhatikan kenaikan harga cabai rawit hingga beras
29 Juli 2024 13:58
