Lumajang - Jumlah pendaki, baik wisatawan asing maupun domestik yang naik ke Gunung Semeru sejak jalur pendakian itu dibuka hingga pekan ini mencapai 2.026 orang. "Animo pendaki untuk naik ke gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang-Malang, Jawa Timur itu cukup tinggi, bahkan jumlah pendaki selama liburan sekolah juga meningkat," kata Kepala Bidang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Wilayah II di Lumajang Anggoro Dwi Sujiharto, Sabtu. Ia menjelaskan dari jumlah 2.026 itu, pendaki asing sebanyak 70 orang dan pendaki domestik 1.956 orang Jalur pendakian Gunung Semeru (3.676 mdpl) yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu mulai dibuka sejak 9 Mei 2012 dengan batas pendakian di Pos Kalimati, sehingga para pendaki dilarang naik hingga puncak Semeru (Mahameru). Data petugas TNBTS di Pos Ranu Pani mencatat jumlah pendaki Semeru meningkat hingga 200 persen atau sekitar 150 pendaki yang naik ke Semeru setiap hari selama liburan sekolah, padahal pada hari normal rata-rata jumlah pendaki berkisar 50 orang per hari. "Banyak pecinta alam yang memanfaatkan liburan sekolah untuk mendaki ke Semeru baik melalui pos Tumpang-Malang maupun pos Ranu Pani-Lumajang," katanya. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan batas pendakian Semeru hingga Pos Kalimati karena status Semeru masih Waspada (Level II) dan kawah Jonggring Saloko sewaktu-waktu dapat mengeluarkan letusan berupa material vulkanik. "Meski sudah dilarang naik ke Mahameru, masih saja ada pendaki yang nekat naik ke puncak dan mengabaikan larangan TNBTS atau PVMBG," keluhnya. Ia berharap para pendaki domestik dan mancanegara yang melakukan pendakian ke Semeru mematuhi prosedur jalur pendakian Semeru yang sudah ditetapkan TNBTS dan tidak melanggar aturan demi keselamatan mereka sendiri. "Para pendaki harus mempersiapkan semua kebutuhan selama mendaki ke Semeru. Selain perbekalan, kondisi fisik dan stamina juga harus disiapkan dengan sungguh-sungguh karena pada musim kemarau ini diperkirakan suhu udara di Semeru sangat ekstrem," ujarnya menambahkan. (*)


Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026