Surabaya - Seratus waralaba asing membidik pasar Indonesia selama tahun 2012 karena daya beli masyarakat nasional terhadap segala produk yang dihasilkan oleh pengusaha "franchise" tersebut dinilai cukup besar pada saat ini.
"Dari 100 waralaba yang masuk ke Indonesia, 50 'franchise' di antaranya berasal dari Malaysia, 16 Amerika Serikat, dan 11 Singapura. Bahkan, beberapa ada yang dari Thailand," kata Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, Anang Sukandar, ditemui dalam "Roadshow Info Franchise and Business Concept Expo 2012", di Surabaya, Jumat.
Jika dibandingkan jumlah waralaba asing pada tahun 2011, jelas dia, pada periode tersebut ada lebih dari 50 waralaba luar negeri yang mengembangkan pasarnya di Tanah Air.
"Dengan banyaknya waralaba asing masuk ke Indonesia, kami imbau pewaralaba lokal tidak perlu khawatir terhadap mereka. Justru pewaralaba lokal harus berani belajar bagaimana mereka menjalankan bisnisnya ke Indonesia," ujarnya.
Ia optimistis, langkah tersebut kian membantu pewaralaba lokal agar tak mudah gulung tikar dalam persaingan bisnis dengan pewaralaba asing.
"Mengenai alasan pewaralaba asing melirik Indonesia dikarenakan pasar nasional mampu bertahan dari krisis ekonomi global dan memiliki pertumbuhan ekonomi membanggakan di Benua Asia. Bahkan, bisa bersanding dengan China dan India," katanya.
Dari 100 pewaralaba asing yang membidik pasar nasional, tambah dia, 50 persen di antaranya menjalankan usaha di sektor makanan minuman dan sisanya nonmakanan minuman.
"Secara umum, masuknya waralaba asing ke Tanah Air memang sulit ditahan karena hal tersebut berkaitan dengan hak kekayaan intelektual/HKI. Sementara, HKI adalah hak yang berlaku universal sehingga bisa dikembangkan di berbagai negara," katanya.
Terkait persaingan bisnis antara waralaba asing dan lokal, kata dia, sampai sekarang memang sulit dinilai secara langsung menyusul ketentuan investasi keduanya memiliki standar masing-masing. Namun, dilihat dari harga jual produk maka membeli di waralaba asing lebih mahal daripada di lokal.
"Investasi membuka gerai lokal contoh berupa 'business opportunity/BO' hanya Rp3,5 juta untuk gerai nonpermanen yang berdiri di luar tempat (gerobak). Ada pula Es Teler dengan investasi Rp750 juta hingga Rp800 juta per gerai (di luar tempat) sedangkan Mc Donalds bisa Rp3 miliar hingga Rp4 miliar per gerai," katanya.
Di sisi lain, lanjut dia, selama ini waralaba lokal yang bisa mengembangkan pasarnya di luar negeri hanya mencapai 10 waralaba. Mayoritas membidik Malaysia dan Singapura.
"Waralaba lokal yang memiliki cabang di luar negeri di antaranya Es Teler, Veneta (isi ulang tinta mesin cetak), Ayam Bakar Wong Solo, Martha Tilaar, dan Taman Sari Herritage," katanya.(*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.