Konsep yang ditawarkan Mansour Faqih, aktivis gerakan sosial di Indonesia, bahkan di tingkat internasional yang juga penulis analisis Gender dan Transformasi Sosial, tentang pembagian peran selama ini belum bisa dipahami masyarakat, hal ini bisa dibuktikan di masyarakat masih banyak pembagian yang kurang proporsional, baik di dalam maupun di luar rumah tangga, sehingga perempuan (istri) masih tergantung sama laki-laki (suami).
"Kebanyakan program pembangunan daerah dalam rangka menyejahterakan masyarakat masih belum memasukKan komponen gender sebagai faktor penting yang mengukur keberhasilan program," celetuk Juana Sari, salah seorang anggota DPRD Sidoarjo.
Anggota Komisi C dari Fraksi Demokrat ini menyatakan, seringkali program tersebut dianggap berhasil, jika masyarakat lokal telah berpartisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan, dan adanya pemerataan distribusi biaya dan manfaat serta upaya pengelolaan sumberdaya sudah dilakukan efisien.
Dengan memenuhi kriteria itu, menurut anggota dewan yang konsen dengan keseteraan alias gender ini, program yang melibatkan masyarakat memang akan terlihat sukses.
"Namun, jika kita melihatnya dari perspektif gender, bukan tidak mungkin program tersebut jauh dari tanda-tanda keberhasilan," tukas lajang yang mewakili dapil Waru-Taman ini.
Menurut perempuan berjilbab ini, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri merupakan salah satum program yang memberikan ruang perempuan berperan aktif dalam rangka menyejahterakan masyarakat, karena perempuan dinilai mampu mengidentifikasi kebutuhan masyarakat yang tidak terpikirkan oleh laki-laki.
Seperti, kebutuhan bidang kesehatan, pendidikan, simpan pinjam, air bersih atau jembatan penghubung ke desa lain. Selain itu, perempuan dinilai dapat bersikap objektif dalam menentukan prioritas kebutuhan, paparnya. (*)
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026