Lumajang - Jalur pendakian di Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, longsor karena hujan deras yang mengguyur jalur pendakian tersebut.
Kepala Bidang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Wilayah II Lumajang, Anggoro Dwi Sujiharto, Jumat, mengatakan ada tiga titik jalur pendakian yang longsor di antara pos tiga hingga pos empat, namun longsor tersebut tidak terlalu parah.
"Longsor itu tidak mengganggu jalur pendakian dan bisa dilewati, namun pendaki tetap diminta waspada dan berhati-hati terhadap sejumlah titik longsor di jalur pendakian Semeru," tuturnya.
Rute jalur pendakian Semeru yakni Ranu Pani - Watu Rejeng - Ranu Kumbolo - Oro-oro Ombo - Cemoro Kandang - Jambangan - Sumbermani - Kalimati - Arcopodo - Cemara Tunggal - Mahameru.
Tiga titik longsor tersebut, lanjut Anggoro, tidak menyebabkan jalur pendakian gunung tertinggi di Pulau Jawa itu putus, sehingga para pecinta alam bisa melakukan pendakian hingga pos Kalimati.
"Pendakian di Gunung Semeru hanya dibatasi di pos Kalimati sesuai dengan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung karena berbahaya mendaki hingga puncak Semeru," paparnya.
Ia menjelaskan pihak TNBTS akan segera membersihkan jalur pendakian Gunung Semeru yang terkena longsor tersebut untuk mengantisipasi longsor susulan yang bisa mengganggu jalur pendakian Semeru.
"Selain longsor, jalur pendakian Semeru juga pernah terbakar seluas 20 hektare tepatnya di Gunung Kepolo, sehingga menyebabkan sebagian jalur rusak, namun masih bisa dilalui," tuturnya.
Status gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut masih Level II atau Waspada, sehingga para pendaki dilarang mendekati kawah dalam radius 4 kilometer termasuk mendaki puncak Semeru (Mahameru) karena letusan dari kawah Jonggring Saloka sering disertai lontaran material batu vulkanik.
"Saya berharap para pendaki mematuhi rekomendasi PVMBG dan tidak nekat mendaki hingga Mahameru karena dapat membahayakan keselamatan pendaki yang bersangkutan," katanya menambahkan.(*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.