Surabaya - Berkah dan ancaman barangkali bukanlah kata yang tepat untuk disandingkan guna memaknai situasi yang baik. Berkah merupakan karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia, sedangkan ancaman adalah sesuatu yang membahayakan tatanan.
Namun demikian, dalam konteks datangnya musim hujan, pilihan kata ini bisa jadi tidak terlalu salah. Sebab, fakta empiris menunjukkan bahwa hujan tidak saja menjadi berkah, tapi bisa berimplikasi negatif pula.
Ancaman kurangnya sumber mata air saat kemarau dan meluapnya air saat musim hujan, tampaknya telah menjadi siklus tahunan di berbagai daerah di Indonesia.
Sumber mata air seperti menghilang begitu saja ketika kemarau mendera. Tapi, luapan air sangat menggelora ketika musim hujan tiba.
Musim hujan kini telah menjelang. Kekhawatiran pun mulai menyeruak. Masyarakat di perkotaan khawatir datangnya musim hujan akan dibarengi "musim" banjir.
Sementara masyarakat yang tinggal bukan di perkotaan tidak berarti lepas dari kecemasan. Sebab, hujan tidak semata-mata menjadi berkah bagi pertanian mereka, tapi sekaligus juga kerawanan.
Saat musim hujan tiba, areal pertanian yang kerontang, mulai terairi. Padang rumput yang gersang, mulai menghijau. Pepohonan yang meranggas kembali bergairah.
Selain itu, sumur-sumur warga yang tandas, mulai terisi air. Daerah yang lingkungannya terjaga baik, mampu merengkuh sebagian guyuran hujan, dan debu yang banyak berhamburan saat kemarau, mampu tersapu bersih.
Tapi, daerah-daerah yang menjadi aliran sungai, apalagi di daerah yang tanahnya memiliki tingkat kemiringan yang tajam, bahaya banjir atau tanah longsor, dapat mengintai sewaktu-waktu.
Kekhawatiran seperti itu dirasakan pula pengamat lingkungan Eko Prasetyo ST MT. Kekhawatiran staf Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak Surabaya ini tentu bukan tanpa alasan.
Datangnya musim hujan akan memberikan manfaat besar jika daya dukung lingkungan memadai. Selain itu, pengelolaan air hujan juga efektif.
Tapi, kata magister teknologi lingkungan ini, jika kualitas lingkungan telah merosot dan pengelolaan air pun tidak cermat, maka ancaman banjir dan tanah longsor akan bisa menjadi keniscayaan.
"Coba perhatikan lingkungan di perkotaan. Bangunan sudah begitu rapat, jalan semua beraspal, pekarangan diplester. Lalu, mana resapan yang bisa diharapkan menahan air hujan," katanya mencontohkan.
Jika sudah begitu, satu-satunya alternatif yang bisa diandalkan adalah saluran air (sistem drainage) untuk pembuangan ke sungai hingga ke laut.
Meski demikian, saluran ini juga bukan alternatif yang baik kalau sumbatan sampah ada dimana-mana, serta saluran sempit tak mampu menampung debit air hujan. Air hujan akan meluber kemana-mana.
Apalagi, jika hujan begitu deras, saluran tidak mampu menampung berbarengan dengan pasang air laut, maka spektrum genangan bisa semakin meluas.
Ia mengakui, berdasarkan prakiraan BMKG sifat hujan pada musim hujan kali ini di sebagian besar wilayah Jawa Timur normal dan hanya sebagian kecil dibawah normal.
Sifat hujan di Indonesia pada 2011-2012 terdiri dari 11,7 persen diatas normal, 78,07 persen kategori normal dan 10,23 persen tergolong dibawah normal.
"Meskipun di Jawa Timur sebagian besar sifat hujannya normal, tapi kita, khususnya warga kota dan daerah rawan banjir maupun tanah longsor, tetap perlu waspada dan antisipatif," kata Eko.
Lebih lanjut ia mengemukakan, masyarakat, utamanya masyarakat perkotaan, sering menganggap air hujan hanya sebagai pembawa banjir, bukan sebagai sumberdaya yang bisa dimanfaatkan secara maksimal dan efektif bagi kehidupan.
Karenanya, ia memahami jika dalam Forum Air Dunia II (World Water Forum) di Den Haag pada Maret tahun 2000, disebutkan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang akan mengalami krisis air pada 2025.
Penyebabnya antara lain lemahnya mengelola air, seperti pemakaian air yang tidak efisien, laju kebutuhan sumber daya air dan potensi ketersediaannya sangat pincang, sehingga menekan kemampuan alam dalam menyediakan air.
Sumberdaya air merupakan sumberdaya yang terbarui (renewable reosurces). Tapi, harus diingat bahwa ketersediaannya kadang tidak selalu sesuai dengan waktu, ruang, jumlah dan mutu yang dibutuhkan.
Karena itu, upaya untuk terus menjaga kualitas lingkungan, perencanaan tata ruang yang baik, pembuatan sistem drainage yang mendukung, serta pemanfaatan air yang bijak, tampaknya akan bisa menjadi solusi guna mengatasi datangnya siklus tahunan "musim hujan".
Jangan sampai ungkapan "banjir di kala hujan dan kekeringan di kala kemarau," menjadi adagium yang lumrah, tanpa upaya serius mengatasinya.(*)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026