Ia masih juga mengikuti lomba-lomba tari. Tercatat sepanjang tahun 1995-2000, Sura memenangkan "The Best Choreography" dalam Lomba Karya Cipta Gerak (LCKG) Se Jawa-Bali. Ajang "Indonesian Dance Festival" (IDF) 2004 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, menjadi gerbang yang membukakan mata publik untuk melirik penari berkulit hitam satu ini.
Dalam IDF yang diikuti penata tari ternama dari Taiwan, Jepang, Belanda, Australia dan Indonesia, Sura kembali menampilkan Bulan Mati.
Sura bukan hanya koreografer yang bagus, tapi juga berbakat dalam hal mengatur keuangan. Sebagai seniman, Sura tidak hanya pandai mengolah gerak membuat karya tari, tapi juga menjual. Sejumlah penari pernah berkolaborasi dengannya. Antara lain Marcia Hydee, penari balet asal Jerman dalam Rama-Sinta, Gary Molking dari California dalam "Guest Global Healing Conference, Japanese Dancer" dalam International Umbul-umbul Festival, dsb.
Kini mimpi Sura terwujud sudah. Meski pernah gagal dibawa ke luar negeri oleh pemimpinnya, Sura tetap bangkit dan bertekad mewujudkan impiannya yang pernah kandas. Kini Sura tidak hanya tampil di dunia tari dalam negeri, ia bahkan telah menari di Jepang, Swiss, Singapura dan beberapa negara Asia lainnya dan bertahan dengan ciri khas roh Bali dalam tariannya, demikian Syandra Kwan yang juga memiliki banyak mimpi yang ingin ia wujudkan.
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026