Surabaya - Ketua Umum DPP Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto belum berkonsentrasi dalam menghadapi Pemilihan Presiden 2014. "Kami serius benahi parpol dulu. Pilpres masih lama," katanya di sela-sela safari Ramadhan di Surabaya, Sabtu. Pada Pemilu 2009, partai politik yang didirikannya itu mampu meraup suara sekitar 3,7 persen. "Itu pencapaian yang cukup bagus, mengingat saat itu baru tiga tahun didirikan dan berbiaya minim," kata mantan Panglima TNI itu. Pada Pemilu 2014, pihaknya menargetkan perolehan suara dua kali lipat dari pemilu dua tahun lalu. "Target itu kami kira wajar karena Hanura saat ini lebih solid. Dulu, pimpinan pengurusnya kami tunjuk. Sekarang melalui pilihan, baik di tingkat DPD maupun DPC," katanya. Terkait RUU Partai Politik, Hanura mengusulkan ambang perolehan suara (parliamentary threshold/PT) sebesar 2,5 persen. "Angka yang kami usulkan terbilang moderat. Partai lain ada yang empat hingga lima persen. Ada pula yang hanya dua persen," kata kontestan dua kali Pilpres itu. Menurut dia, kalau PT disetujui empat sampai lima persen, maka ada 19 juta suara hasil pemilu tiga tahun lalu hilang. "Padahal rakyat berdaulat. Rakyat memberikan mandat karena tidak bisa mengurus dirinya sendiri," kata Wiranto. Untuk meraih simpati masyarakat dalam Pemilu 2014, dia menginstruksikan kadernya di DPR menggunakan hak angketnya dalam beberapa kasus hukum. "Kami tidak akan lelah mendorong kader menggunakan hak angketnya dalam kasus Bank Century, mafia pajak, Nazaruddin, dan kasus hukum lainnya," katanya. Ia menganggap persoalan tersebut sebagai persoalan bangsa bukan persoalan salah satu partai politik. Dalam kesempatan itu, Wiranto menjelaskan tujuannya melakukan safari politik ke daerah-daerah untuk mengajak para kadernya agar aktif turun ke konstituennya. "Selain itu, kami ingin kader meningkatkan amal ibadah dalam bulan puasa dan meningkatkan silaturahmi antarpengurus dalam meningkatkan soliditas dan kinerja organisasi," katanya. Wiranto menambahkan bahwa kegiatan tersebut juga untuk meyakinkan kader tingkat DPC dan DPD bahwa perjuangan partainya benar adanya. "Problem yang sangat mendasar bahwa degradasi akhlak dan moral. Korupsi dan kebohongan merajelala," katanya.*


Editor : M. Irfan Ilmie
COPYRIGHT © ANTARA 2026