Probolinggo – Pengunjung yang akan naik ke kawah Gunung Bromo selama upacara Yadnya Kasada dibatasi karena bibir kawah dan tanahnya masih labil akibat erupsi beberapa wkatu lalu. “Pengunjung yang akan naik akan diatur secara buka-tutup,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabaupaten Probolinggo, Tutug Edi Utomo, Minggu. Pengaturan tersebut, lanjut dia, dilakukan untuk keselamatan para pengunjung agar tidak terjadi desak-desakan pengunjung di bibir kawah yang dikhawatirkan bisa mengancam keselamatan jiwa. Upacara Yadnya Kasada tahun 2011 ini kondisinya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi infrastruktur di Gunung Brom0 pascaerupsi kini rusak parah sehingga pertlu ada pengaturan. Kondisi paling berat dirasakan warga suku Tengger yang ada di Brang Kulon (sisi barat Gunung Bromo), yakni di wilayah Kabupaten Pasuruan. Infrastruktur dari arah Pasuruan menuju kawah Gunung Bromo rusak parah. Ruas Dingklik–Pakis Bincil–Lautan Pasir tidak bisa dilalui mobil, kecuali jenis jip dan sepeda motor sehinga warga yang akan melaksanakan upacara Yadnya Kasada harus berjuang menaklukkan jalan yang rusak atau memilih jalan kaki. Untuk mengurangi risiko kecelakaan, petugas memasang papan larangan masuk lautan pasir berbagai jenis kendaran di Pakis Bincil. Tak terkecuali bagi para pedagang makanan. Didik, seorang penjual ampyang yang merupakan jajanan favorit Kasada terpaksa menggelar dagangannya di Pakis Bincil, sekitar 4 kilometer dari kawah Gunung Bromo. *


Editor : M. Irfan Ilmie
COPYRIGHT © ANTARA 2026