"Secara umum, pada malam Jumat legi dan hari libur Minggu, peziarah yang datang selalu ramai dibandingkan hari biasa," jelas Teguh mengambarkan.
Ia mencontohkan, pada hari libur tahun baru 2011 lalu, diperkirakan jumlah peziarahnya mencapai sembilan ribu orang yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Teguh, kompleks makam di Ponpes Tebu Ireng tersebut, sebenarnya selalu dikunjungi peziarah sebelum ada makam Gus Dur. Sebelumnya, peziarah datang untuk datang ke makam KH Hasyim Asyari, kakek Gus Dur, yang lokasi makamnya berada di dekat makam Gus Dur yang sekarang.
"Kalau dulu, jumlah peziarah tidak banyak hanya berkisar ratusan orang setiap harinya," papar Teguh, menambahkan.
Mencapai lokasi makam Gus Dur di Jombang cukup mudah, hanya sekitar tujuh kilometer dari Stasiun KA Jombang dan berada di tepi jalan raya Jombang-Batu, Malang. Dengan terjadinya peningkatan jumlah peziarah tersebut, di pintu utama masuk makam, pengunjung harus berjalan berdesak-desakan, sebelum mencapai makam.
Termasuk di sepanjang jalan raya Jombang di depan makam, semua kendaraan berjalan merayap, karena sebagian kendaraan para peziarah diparkir di sepanjang kanan kiri di jalan setempat.
Selain itu, di tepi jalan juga dipenuhi dengan para pedagang yang menjajakan dagangannya di tepi jalan raya di kawawan itu. Begitu pula dari arah lokasi parkir bus yang berada di selatan yang jaraknya sekitar 150 meter dengan makam, pengunjung juga harus berjalan perlahan di sepanjang jalan di desa setempat.
Bagi peziarah yang datang, terpaksa harus antre untuk berdoa di depan makam Gus Dur dan KH Hasyim Asya'ri. Di lokasi makam, hanya ada seorang petugas yang mengatur mengalir keluar masuknya, para peziarah baik yang baru datang maupun keluar.
"Tidak hanya pagi dan siang hari, malam hari juga seperti ini, peziarah datang mengalir," ungkap Kholilo.
Sesuai ketentuan, kompleks pemakaman Ponpes Tebu Ireng tersebut, setiap hari buka pukul 07.00-16.00 WIB dan buka kembali mulai pukul 20.00-04.00 WIB.
Melihat kondisi lingkungan setempat, tidak terlalu berlebihan kalau kemudian Zannuba Arifah Chafshoh atau Yenny Wahid, mendukung pembangunan infrastruktur, seperti jalan dan fasilitas pendukung lainnya, karena sangat dibutuhkan oleh para peziarah.
"Hanya saja, saya mengingatkan agar penggunaan APBN dan APBD untuk pembangunan infrastruktur dilakukan secara transparan karena hal ini menyangkut nama besar Gus Dur," tuturnya.
Seperti disampaikan petugas di posko di Masjid Ulul Albab di lingkungan Ponpes Tebu Ireng, S Achmadi (41), pembangunan lokasi parkir, juga fasilitas pendukung lainnya di atas tanah seluas lima hektare masih dalam tahap pengurukan.
Diperkirakan, pembangunan fasilitas pendukung makam Gus Dur bagi peziarah tersebut, rampung 2014. Fasilitas pendukung di lokasi parkir yang berdekatan dengan masjid induk Ulul Albab tersebut di antaranya, museum dan perpustakaan.
"Kalau data yang saya terima besarnya dana pembangunan lapangan parkir, juga yang lainnya mencapai Rp180 miliar," paparnya.
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.