Laskar Sakina Banyuwangi Raih Penghargaan Internasional

id Laskar Sakina, kematian ibu dan anak Banyuwangi,Laskar Stop Angka Kematian Ibu,laskar sakina banyuwangi

Laskar Sakina Banyuwangi Raih Penghargaan Internasional

Kepala Puskesmas Sempu Hadi Kusaeri di forum internasional di Seoul, Korea Selatan, beberapa waktu lalu. (Istimewa)

program ini kemudian melibatkan para pedagang sayur keliling (mlijo) yang ditugaskan mencari, menemukan, dan melaporkan ibu hamil baru dengan risiko tinggi di wilayah mereka berjualan
Banyuwangi (Antaranews Jatim) - Program Laskar Stop Angka Kematian Ibu dan Anak (Sakina) dari Puskesmas Sempu, Banyuwangi, Jawa Ti,ur, mendapatkan penghargaan dalam forum Open Government Partnership (OGP) Asia-Pacific Regional Meeting yang digelar di Seoul, Korea Selatan, 5-6 November 2018.

Bupati Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis, menjelaskan, program Laskar Sakina itu dinobatkan sebagai The Most Interested Innovation dalam forum yang diikuti inovator dari 79 negara di wilayah Asia-Pasifik, termasuk dari Indonesia yang diwakili Kabupaten Banyuwangi.

"Kami berharap prestasi ini menyuntikkan semangat kepada puskesmas dan berbagai institusi lain di Banyuwangi untuk terus berinovasi dan berkreativitas," katanya dalam keterangan tertulis Pemkab Banyuwangi.

Anas mengemukakan, program Laskar Sakina itu berisi beragam program untuk menekan angka kematian ibu dan anak. Laskar tersebut beranggotakan kader kesehatan, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, PKK, hingga aparat kepolisian.

Laskar Sakina melakukan pendataan di lapangan terhadap kesehatan ibu, terutama ibu hamil berisiko tinggi. Ibu hamil itu kemudian didampingi, dikumpulkan dalam jambore ibu hamil, hingga dilakukan antar-jemput di masing-masing rumah.

Sasaran utama program ini adalah ibu hamil berisiko tinggi dengan kriteria, antara lain berusia kurang dari 20 tahun dan di atas 35 tahun, jarak kelahiran anak yang terlalu dekat, memiliki riwayat hipertensi, dan tinggi badan kurang dari 150 cm.

Dalam perjalanannya, program ini kemudian melibatkan para pedagang sayur keliling (mlijo) yang ditugaskan mencari, menemukan, dan melaporkan ibu hamil baru dengan risiko tinggi di wilayah mereka berjualan. Para penjual sayur dilibatkan karena mereka bekerja sampai ke pelosok kampung serta berinteraksi langsung dengan masyarakat.

"Hal ini penting, karena banyak kasus tingginya kematian ibu dan bayi disebabkan oleh kehamilan yang berisiko. Kalau hanya mengandalkan tenaga bidan puskesmas, sangat tidak mungkin karena jumlahnya terbatas, sementara wilayah kerjanya luas. Dan ternyata, pelibatan mlijo ini justru yang dianggap menarik oleh OGP karena update data bisa didapatkan setiap hari," kata Anas.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Sempu Hadi Kusaeri menambahkan, untuk menjalankan tugasnya, para penjual sayur dibekali fasilitas dari puskesmas berupa telepon seluler pintar (smartphone), pulsa, keranjang yang ditempeli edukasi soal kehamilan, dan sepatu boot. Dengan fasilitas itu, mereka mengirim informasi secara online saat menemukan ibu hamil berisiko tinggi.

"Berkat program ini, mulai periode Januari 2017 hingga September 2018 ini angka kematian ibu dan bayi di wilayah kami bisa ditekan sampai nol alias zero," kata Hadi.(*)

Baca juga: Program Inovasi Gancang Aron Banyuwangi Raih Penghargaan
Baca juga: Berhasil di Sentra Pertanian, Bupati Anas Terima Penghargaan
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar