Hal Penting dalam Kemajuan Industri Film China

id film china, hal penting industri china

Hal Penting dalam Kemajuan Industri Film China

Ilustrasi - Wisatawan mengunjungi salah satu bagian dari Tembok China di kawasan Juyongguan, Beijing, China, Jumat (4/5). Antara Jatim/Zabur Karuru/18.

Nusa Dua (Antara) - President of China Film Group Corporation Le Kexi mengatakan ada tiga hal penting dari kemajuan industri perfilman China yang bisa dipelajari oleh Indonesia.

"Pertama, harus ada regulasi, kebijakan atau peraturan untuk internasional. Karena ini hal paling mendasar untuk mengembangkan industri perfilman," kata Le Kexi di Nusa Dua, Bali pada Rabu (7/11).

Dia lebih lanjut menjelaskan bahwa dengan populasi Indonesia yang begitu banyak dan keragaman budaya yang ada, kalau Indonesia bisa terbuka terhadap pihak luar yang membawa pengalaman, teknologi serta pengetahuan mereka tentang industri perfilman maka dengan kondisi seperti ini industri perfilman Indonesia bisa berkembang secara pesat.

"Hal penting kedua adalah dari secara ekosistem, misalnya Indonesia harus membangun banyak bioskop dan memproduksi film yang lebih bagus lagi," tutur Le Kexi.

Menurutnya bioskop harus diperbanyak karena tanpa jumlah bioskop yang memadai, maka film-film yang bagus tidak bisa diputar. Maka dari itu ekosistem industri perfilman harus bagus dari cinema, film kemudian penonton.

"Ketiga adalah mendorong kerjasama produksi bareng atau co-production antar kedua negara, karena dengan adanya hal ini di tingkat negara maka akan sangat membantu industri perfilman di Indonesia," ujar Le Kexi usai menyampaikan materi dalam konferensi utama di World Conference on Creative Economy.

Dia menjelaskan bahwa dengan adanya co-production bersifat bilateral ini maka Indonesia memiliki kesempatan untuk menampilkan atau memamerkan kebudayaan milik negara tersebut dan mendidik sumber daya manusia Indonesia.

Le Kexi juga menjabarkan bahwa film-film hasil co-production China yang tayang di bioskop-bioskop negara itu hanya 10  persen, namun secara box office bisa melampaui 50 persen.

"Kuota film hasil co-production ini tidak mengambil kuota penayangan film asing yang ditetapkan oleh Tiongkok, namun termasuk kuota film nasional," ujarnya.

Le Kexi merupakan salah satu dari beberapa pakar industri perfilman yang hadir sebagai pembicara di World Conference on Creative Economy di Bali. Konferensi pertama dunia yang membahas ekonomi kreatif ini dihadiri oleh delegasi lebih dari 30 negara dan 1500 peserta. (*)

    
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar