Nikmatnya Menyeruput Kopi Luwak di BAS

id Wisata Bali, Desa Adat, Desa penglipuran, Semen Indonesia, antaranews jatim

Nikmatnya Menyeruput Kopi Luwak di BAS

Tiga alat penyeduh kopi yang dimanfaatkan. (Slamet Agus Sudarmojo.)

Cara penyajian kopi luwak tanpa gula.
Bangli  (Antaranews Jatim) - "Ngopi dulu biar ndak salah paham". Begitulah komentar yang biasa kita baca di media sosial yang ditulis pengemar kopi di Tanah Air.

Dengan "menyeruput" kopi memang bisa mengendorkan suasana, apalagi kalau minum kopi luwak di "I Love" Bhuwana Amertha Sari (BAS) di Jalan raya Tampaksiring-Kintamani, di Desa Sribadu, Bangli, Bali.

"Cara penyajian kopi luwak tanpa gula," kata petugas di I Love BAS Dian seraya menyodorkan alat penyeduh kopi juga sejumlah cangkir di atas meja dibantu sejumlah petugas lainnya.

Cara penyanyian kopi ;luwak di BAS cukup sederhana. Dengan peralatan penyeduh kopi manual langsung diletakkan di meja dihadapan konsumen yang duduk di meja. Di bawah alat penyeduh itu terdapat kompor kecil yang merupakan satu kesatuan dengan alat itu.

Sesaat setelah alat penyeduh dari kaca dipanaskan air kopi turun perlahan-lahan ke bawah sebelum akhirnya dibagikan ke cangkir-cangkir yang sudah disedikan untuk diminum pembeli.

Menyeruput kopi luwak di BAS, kalau hanya secangkir tanpa terasa dengan cepat habis, apalagi di kawasan BAS berhawa sejuk.

"Kopi di alat penyeduh ini bisa untuk dua cangkir. Harga kopi Luwak Rp30.000 per cangkir," ucapnya, menambahkan.

Namun, sebelumnya sejumlah petugas menawarkan tester berbagai aneka minuman di gelar kecil yang ditempatkan di baki yang diberi nama sesuai minuman itu, mulai "mocca coffee", gingseng "coffee", "coconut coffee", juga yang lainnya.

"Ada 14 macam tester minuman, ya ada kopi juga minuman yang lainnya, tapi semuanya manis. Tester yang kami bagikan ini gratis," tutur Nia petugas lainnya, menambahkan.

Di I Love BAS, menurut petugas lainnya I Putu Yobie, khusus untuk kopi luwak ada dua jenis yaitu Arabika dan Robusta yang semuanya produksi I Love BAS.

"Untuk memproduksi kopi luwak dikebun kopi tapi lokasinya di luar. Kalau jumlahnya di kebun ada kalau ratusan pohon kopi," ucap dia. menegaskan.

Meski demikian, lanjut dia, di lokasi BAS juga terdapat 10 ekor Luwak yang ditempatkan di dalam kandang, yang bisa disaksikan pengunjung.

Termasuk seorang pekerja yang mengoreng kopi secara tradisional dengan bahan bakar kayu yang juga bisa disaksikan pengunjung.

"Produksi kopi luwak yang ada di kebun kopi rata-rata sekitar 2 kilogram per harinya," ujarnya, menambahkan.

Di I Love BAS, menurut dia, kebanyakan penikmat kopi Luwak pada sore hari,  tidak hanya wisatawan manca negara (wisman) juga wisatawan domestik (wisdom).

"Tapi kebanyakan yang datang menikmati kopi Luwak wisman yang datang sore sampai malam hari," ujarnya.

Kali ini rombongan wartawan Bojonegoro dan Tuban yang mengikuti Media Gathering Semen Indonesia, harus lari menuju halaman depan I Love BAS.  

Masalahnya mendadak lokasi setempat bergetar dipengaruhi gempa susulan di Lombok yang belakangan diketahui berkekuatan 6,2 SR.

Padahal, ketika itu sejumlah wartawan ada yang menonton luwak di dalam kandang, berswafoto di sejumlah lokasi di lereng, juga di tempat lainnya.

"Tadi ada teman yang akan kencing terpaksa batal karena kamar manding bergoyang," kata seorang wartawan asal Tuban Wandi. (*)
Pewarta :
Editor: Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar