Kalau di Jakarta ada bayi Ryuji Marhaenis Kaizan yang sekarang dirawat di RSCM Jakarta, maka di Jatim juga ada kasus serupa. "Kami minta Pemerintah Provinsi Jatim menyelamatkan penderita Atresia Bilier (gangguan fungsi hati) asal Pasuruan, yakni Rama Indra Abimanyu (Abim) yang sedang kami bantu," ucap Koordinator Relawan BPJS-Watch Jawa Timur, Jamaludin, di Surabaya, Rabu (25/2). Menurut dia, penyakit yang diderita Abim itu tergolong langka, karena hanya terjadi pada satu di antara 10.000 anak. Selain itu, apa yang diderita Abim juga perlu perhatian serius, karena penderita membutuhkan operasi cangkok hati agar bisa selamat dan sehat. "Biaya operasi tersebut diperkirakan menelan biaya Rp1,2 miliar karena dilakukan di luar negeri, sedangkan BPJS Kesehatan hanya bisa menanggung Rp250 juta," katanya. Ia menjelaskan Abim sekarang berusia lima bulan dengan berat badan 6,7 kg. "Dia didiagnosa kena atresia bilier sejak usia 1,5 bulan dan sudah menjalani operasi saat usia 2,5 bulan di RSUD Dr Soetomo Surabaya pada 17 Desember 2014," katanya. Saat ini, Abim dalam proses rawat jalan dan terapi untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya dan pemenuhan nutrisi agar kelak memenuhi syarat untuk dilakukan transplantasi hati. "Belum diketahui kapan akan dilakukan transplantasi, karena menurut dokter selama fungsi hati masih bagus, transplantasi bisa ditunda selama mungkin," katanya. Selama rawat jalan dan terapi, kebutuhannya adalah minum susu pepti junior atau pregestimil (satu kaleng sebanyak 400 gram habis dalam tiga hari). Selain itu, minum puyer vitamin nurdahek, suntik vitamin K setiap bulan dan cek laboratorium secara lengkap setiap bulan. "Bayi Abim merupakan anak kedua dari keluarga buruh Pasuruan yang penghasilannya hanya sebesar UMK. Selama ini untuk biaya pengobatan dibantu berbagai pihak," katanya. Keluhannya, jika kontrol ke RSUD Dr Soetomo harus antre dan pihak BPJS Kesehatan Pasuruan kurang membantu dengan baik. "Karena itu, kami minta negara dan pemerintah melalui RSUD Dr Soetomo terus memberikan pelayanan medis sebaik-baiknya dan BPJS Kesehatan Jatim menanggung biayanya secara optimal," katanya. Jual Tabung Elpiji Nasib yang malang juga dialami oleh Vita Ridhani Yuniningsih (43), karena tidak mampu membeli obat-obatan yang dibutuhkan putri bungsunya bernama Chiquitita Adinda Putri Istiawan (2). "Saya berniat menjual tabung gas elpiji untuk obat anak saya," ucap ibu tiga anak yang akrab dipanggil Vita itu kepada Daniel Lukas Rorong selaku Ketua "Komunitas Tolong-Menolong" (KTM) melalui SMS. Mendapati informasi seperti itu, Daniel mencoba mengorek-orek permasalahan yang sebenarnya terjadi dan bergerak cepat dengan membelikan obat-obatan dan vitamin yang dibutuhkan, seperti Depakene, Locoid Scalp dan Prolacta DHA yang harganya tidak sampai Rp400 ribu. Chiquitita Adinda Putri Istiawan (2) atau yang akrab dipanggil Dinda itu divonis menderita epilepsi sejak usianya masih menginjak enam bulan. Otomatis, balita kelahiran 28 Mei 2012 itu harus mengonsumsi Depakene untuk mengurangi kejang-kejang saat epilepsinya kambuh sewaktu-waktu. Ketika stok Depakene-nya habis selama seminggu sejak pertengahan bulan ini, Dinda sering mengalami kejang-kejang, sehari bisa sampai tiga kali. Tentu saja, hal ini membuat Vita panik dan tidak tahu harus berbuat apa, sehingga istri dari Heru Istiawan (41) ini sampai berniat menjual satu-satunya barang berharga miliknya yang tersisa yakni tabung gas elpiji Blue Gas 5,5 kg beserta tungkunya. Sementara Locoid Scalp diperlukan untuk mengobati sejenis jamur (Tinea Barbae and Tinea Capitis) yang tumbuh di beberapa bagian di kulit kepalanya. Prolacta DHA Baby sendiri diperlukan untuk pemenuhan gizi Dinda yang termasuk terlambat pertumbuhan anak seusianya. "Sampai saat ini, anak saya hanya bisa mengucapkan kata mama saja. Berjalannya pun masih belum laiknya anak-anak seusianya," ungkap Vita sambil menemani Dinda yang saat itu sedang asyik coret-coret memakai crayon di selembar kertas. Penderitaan Dinda tak hanya itu saja. Balita yang suka main bola ini juga memiliki kelainan bentuk tulang pada telapak kakinya, khususnya kiri yang terlihat bengkok. "Untuk itu, kami berniat untuk membantu membelikan sepatu khusus buat Dinda, termasuk kami juga berusaha memenuhi kebutuhan Dinda yang lain seperti pampers, susu formula, perlengkapan mandi, dan lain sebagainya," beber relawan kemanusian sejak tahun 2007 itu. Untuk diketahui, Dinda sendiri sebenarnya adalah pasien BPJS umum kelas 1 dengan nomer kepesertaan 0001244551997 yang setiap bulannya membayar Rp59 ribu. "Tapi saya tidak tahu, kenapa obat-obatan yang diperlukan anak saya tidak dicover saat saya berniat menebus di apotek (di salah satu rumah sakit di Surabaya)," ungkap Vita. Untuk itu, ia berharap pihak BPJS bisa membantu dan merespons keluhannya. "Meski tergolong tidak mampu, tapi saya sadar asuransi, sehingga saya menyertakan anak saya di BPJS dengan harapan agar dapat dicover kesehatannya," harap Vita. (*)
Berita Terkait
Anggota DPR kunjungi balita penderita hidrosefalus di Jawa Timur
14 Oktober 2025 14:36
Anggota DPR kunjungi balita penderita hidrosefalus di Trenggalek
13 Oktober 2025 16:20
Pemkot Kediri bantu balita penderita Epilepsi Suspec Ensefalis
10 Mei 2023 00:55
Balita penderita lumpuh otak di Kota Surabaya dapat bantuan fisioterapi
30 September 2022 07:16
Balita penderita "cerebral palsy" dan "hidrosefalus" di Surabaya direhabilitasi
26 Februari 2022 17:06
HMI dan KAHMI Pamekasan santuni balita penderita limfangioma
26 Desember 2019 20:24
Balita penderita tumor limfangioma segera dioperasi
26 Desember 2019 19:26
