Tulungagung (Antara Jatim) - Sejumlah warga di Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menanam belasan pohon pisang di tengah jalan antarkampung di wilayah mereka yang rusak parah karena tak kunjung diperbaiki pemerintah daerah setempat. "Kami terpaksa melakukannya karena jalan rusak ini sudah berkali-kali mencelakakan pengguna jalan," kata salah seorang warga Desa Jabalsari, Suwito, di sela-sela aksi penanaman pohon pisang ruas jalan menuju Desa Pulotondo, Tulungagung, Senin. Pantauan di lapangan, titik penanaman pisang tidak diatur secara rapi. Warga menanam di setiap ruas jalan yang berlubang cukup dalam. Tidak hanya menanami pohon pisang, dalam aksi mereka warga juga menaruh seekor kambing yang diikatkan di salah satu batang pohon pisang. Aksi protes itu menarik perhatian sejumlah pengguna jalan. "Kami kecewa, karena sudah setahun lebih jalan ini rusak parah tapi tak kunjung diperbaiki," timpal warga lainnya tak mau kalah. Rupanya tak hanya kondisi jalan rusak yang menjadi sumber kemarahan warga. Mereka juga mengeluhkan kondisi jalan yang minim penerangan. Akibatnya, kata Suwito, hampir setiap malam terjadi kecelakaan atau pengendara yang terjatuh. "Masih banyak jalan yang berlubang, terutama yang dekat dengan eks-pabrik keramik metropole," kata Deni. Suwito menambahkan, sebenarnya jalan tersebut sudah pernah diperbaiki dengan cara menambal menggunakan semen dan pasir. Namun ketika hujan turun, serta dilalui kerap kendaraan bertonase besar melalui jalan tersebut sehingga hasil tambalan rusak lagi, bahkan semakin parah. "Mungkin pada waktu perbaikan jalan hanya asal menambal, dan ketika dilalui truk besar jalan tidak kuat dan berlubang (rusak) lagi," ujarnya. Bupati Tulungagung Sahri Mulyo sebenarnya telah mengalokasikan anggaran cukup besar untuk memperbaiki infrastruktur jalan yang rusak tersebut, sesuai janji politiknya saat kampanye. Namun luasnya volume jalan yang harus ditingkatkan kualitasnya atau diperbaiki, keterbatasan anggaran serta skala prioritas membuat kebijakan tersebut belum tertangani secara optimal. (*)


Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026