"Siapa yang suka dongeng? Siapa yang pernah menonton Film Laskar Pelangi? Semuanya bisa kita dengar melalui radio," ujar Penyiar Radio "SHE FM" Windy Goestiana sambil memutar dongeng dan lagu Laskar Pelangi. Itulah motivasi Windy kepada 70-an anak kelas 5 SDN Margorejo III, Jalan Bendul Merisi Besar, Surabaya, ketika mengikuti Kelas Inspirasi (KI) Jawa Timur di sekolah setempat, 29 September 2014. Windy tidak sendiri, tapi ada dua inspirator lagi yakni pengusaha resto "Roemah Waroeng" Chris Susanto dan dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya Dr Asri Wijayanto SH MH. Keduanya memberi motivasi pada ruangan lain. Setelah itu, Windy pun bertanya kesan dan perasaan setelah mendengar dongeng dan radio yang diputar dari radionya, lalu anak-anak pun menjawab, "Sedih". Windy pun menimpali, "Saya sedih melihat tokoh-tokoh dalam cerita Laskar Pelangi, rasanya ingin sekolah lagi seperti adik-adik". Menurut dia, perasaan yang terbawa setelah mendengar radio itu merupakan kelebihan dari radio yang mampu membuat pendengarnya senang atau sedih. "Itu karena radio mengandalkan suara," katanya. Selanjutnya, penyiar radio yang juga berpengalaman dalam dunia televisi dan media cetak itu menjelaskan semua program radio itu harus disiapkan terlebih dulu sebelum disajikan pada pendengar. "Siapa yang tahu cara menyiapkan program," ucapnya yang dijawab seorang siswa yakni menyiapkan pertanyaan. "Itulah yang disebut wawancara. Kalau kita buru-buru bisa jadi alat perekam atau handphone ketinggalan, lalu kita akan dimarahi pimpinan," tambahnya. Tidak jauh berbeda dengan Windy, pengusaha resto "Roemah Waroeng" Chris Susanto menceritakan suka duka menjadi pengusaha restoran yang harus bangun jam 05.00 WIB, lalu memasak dan buka restoran atau warungnya pada jam 07.30 WIB. "Saya punya sembilan karyawan tapi saya tetap pulang 22.00 WIB dan tiba di rumah pukul 22.30 WIB," paparnya. Menurut dia, hal itu sama dengan bintang kelas yang harus belajar lebih baik daripada temannya. "Artinya, kalau mau sukses itu harus kerja keras dan jangan malu," katanya. Setelah itu, ia pun menampilkan gambar-gambar restoran, makanan, dan karyawan, baik saat bekerja mapun saat santai. "Siapa yang suka makan?," tukasnya yang dijawab semua siswa dengan mengacungkan tangan, "Saya, pak". Akhirnya, semuanya pun tertawa. Pembelajaran Baru Senada dengan itu, dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya Dr Asri Wijayanto SH MH mengawali pemberian motivasi dengan menanyakan cita-cita anak-anak SDN Margorejo III/Surabaya yang dijawab dokter, polisi, tentara, dan guru. "Bukan hanya itu. Ada pula dosen dan dosen itu sama dengan guru, apa bedanya?," katanya. Seorang siswa menjawab, "Sama-sama mengajar tapi muridnya beda". Asri pun mengacungi jempol atas jawaban itu dan memberi hadiah berupa pensil kepada siswa itu. Dalam waktu yang sama, sebanyak 160 profesional menginspirasi ribuan siswa pada 50 SD di Surabaya pada Hari Inspirasi Jatim, 29 September 2014. "Puluhan inspirator di Surabaya itu terdiri atas berbagai profesi, di antaranya jurnalis, fotografer, penyiar radio, dosen, akunting, insinyur, direktur, arsitek, dokter, PNS, pelukis, penulis hingga pemadam kebakaran," kata Koordinator KI Surabaya 3, Nadia Chrisanti. Ia menjelaskan setiap sekolah akan diinspirasi oleh 3-4 orang relawan pengajar, satu orang fotografer dan satu orang fasilitator. Fasilitator bertugas membantu relawan, termasuk mengawali Kelas Inspirasi dengan simulasi atau permainan yang menyenangkan. "Semua inspirator menceritakan pekerjaan yang sedang mereka geluti saat ini, bagaimana cara supaya bisa menjadi seperti mereka, suka-duka pekerjaan mereka dan memotivasi anak-anak agar mengejar cita-cita dan mimpi-mimpi mereka," tuturnya. Pada Hari Inspirasi Jatim itu, selain Surabaya, Kelas Inspirasi juga digelar serentak pada 26 kabupaten/kota lainnya di Jawa Timur, di antaranya Bangkalan, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Gresik Bawean, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Trenggalek, dan Tuban. Kelas Inspirasi kali pertama terselenggara pada tahun 2012. Saat itu baru Jakarta, dan menyusul lima kota besar lain di tahun 2013, termasuk di antaranya Surabaya. Dari sinilah cikal bakal munculnya Kelas Inspirasi Jawa Timur. Awalnya, Kelas Inspirasi Jatim hanya diikuti 13 kabupaten/kota (2013), tapi tahun ini (2014) ada 27 kabupaten/kota yang melaksanakan kegiatan yang sama dan pada hari yang sama pula. Menanggapi kegiatan Kelas Inspirasi Jatim itu, Kepala SDN Margorejo III/Surabaya, Kindriani Nurul Wayuke, mengaku senang. "Karena anak-anak saya mendapat pembelajaran yang baru, sehingga wawasan anak-anak pun semakin luas, apalagi banyak profesi yang terlibat," kata kepala sekolah yang mendidik 413 siswa kelas 1 hingga 6 itu. Bahkan, anak didiknya sangat tertarik, meski mereka harus berjubel mendengarkan motivasi dari Kelas Inspirasi Jatim itu, karena sekolahnya sedang dalam proses renovasi. Ya, Kelas Inspirasi menjadi bukti bahwa Indonesia masih punya anak bangsa yang peduli pada masa depan negerinya dan keberagaman bisa menjadi aset bangsa yang berharga untuk membangun keanekaragaman bangsa ini. (*)
Berita Terkait
Pemerhati: Kelas Inspirasi wujud kepedulian Surabaya kepada anak
31 Januari 2023 11:20
DP3A-PPKB: Kelas Inspirasi cegah kekerasan anak di Surabaya
29 Januari 2023 14:57
Bunda Fey bagikan "5S" sebagai kunci sukses dalam kelas inspirasi
6 Desember 2022 22:50
Menanamkan semangat belajar anak-anak PAUD lewat kelas inspirasi di Surabaya
24 April 2022 12:04
Kelas inspirasi
17 Juli 2019 18:40
Wali Kota Kediri ajak pelajar kuasai informasi dan teknologi
16 Juli 2019 23:40
Kelas Inspirasi
9 Februari 2019 18:14
Kelas Inspirasi
7 Januari 2019 17:30
